Ospek Menggairahkan

Hasil gambar untuk ayam kampus

Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Usia 23 thn. Saya mahasiswi di suatu perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari jatim, menjadi niatnya hanya mencari ilmu di Bandung ini. Siapa tahu dapat menjadi tukang insinyur. Saya tinggal di kawasan Dago, menempati satu buah rumah yg pass luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dgn sekian banyak kamar kosong. Cuma ada saya, seseorang pembantu yg pass sepuh & dua ekor anjing peliharaanku pula sekian banyak ikan di dalam akuarium di segi area tamuku. Keluarga pamanku tinggal di Inggris, sebab pekerjaan menggali ilmu yg mesti dirinya melaksanakan. 

Berawal dari inisiasi & orientasi universitas yg dilakukan kakak-kakak tingkatanku, saya bertaaruf dgn satu orang sohib gadis bernama Santi. Gadis yg manis, dgn tinggi kurang lebih 160 centi meter, berkulit kuning langsat. Ketika itu, saya amat kasihan jika menyaksikan dirinya menerima hukuman yg menurutku teramat dibuat-buat oleh seniorku. Disuruh mencium-lah, meraba, & push-up dibawah mereka. Akh… sialan, seribu topan badai! Saya sungguh tak terima & biasa gaya sok jagoanku muncul. Kudekati seniorku & kuhajar bersama sekian banyak jurus perkenalan dariku. Yah, gini-gini saya pass menguasai karate & pencak silat, menyerang & bersi teguh, dua aspek yg teramat kusenangi. Maklumlah saya senang berkelahi dari mungil. 

Sekian Banyak senior juga mulai sejak mengeroyokku. Sambil pasti saja, terjatuh-jatuh menerima tendangan & libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin saja beliau termasuk juga pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami & berikan hukuman kepada kami seluruh. Lari-lari mengitari universitas sambil menyanyi & menari, basic! 
But never mind, yg terpenting gadis manis itu tak lagi digoda & diganggu. Mungkin Saja mereka malu atau takut apabila selesai periode yg mesti dilalui mahasiswa baru ini akan ketemu saya & mampu memang kuhajar mereka. Bagaimanapun yg lemah mesti dibela. 

Seminggu KemuRatna, baru kutahu gadis itu satu kelas denganku & kami serta bertaaruf. 
“Hai…, trimakasih yah tempo hari anda menolongku. Gara-gara saya, anda menjadi kena masalah deh.” Hey beliau menyapaku duluan. 
“Ah ndak kok, itu sih urusan mungil buatku”, sambil tersenyum kusapa balik. 
“Oh, yah kita belum bertaaruf tempo hari, nama anda siapa?” Saya tanya seolah saya belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal saya telah tahu namanya dari senior-seniorku. 
“Santi, anda?” Duh mak, nih gadis memang manis sekali, senyumnya aah…, terlebih matanya, bulat dgn alis yg tertata rapi berwarna hitam, tepat sekali 
“Hey… anda mengapa?” Duh didapati jikalau lagi terpana. Eh, nih anak baju & celananya seksi and ketat sekali, mengundang perhatian laki laki, pikirku. Beda sekali denganku, celana jeans belel dgn kemeja panjang kedodoran, potongan rambut pendek cepak & memanfaatkan jam tangan yg agung. Pokoknya saya suka seperti ini, lalu saya populer cool di antara rekan-rekan laki-laki SMU-ku di Malang. 

“Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tetapi anda boleh panggil saya apa saja, namun Ratna lebih nikmat kedengarannya, he.. he.. he.” Menjadi grogi pula nih. 
“Hmm.., anda tinggal dimana?” tanyaku, siapa tahu kan kelak beliau lebih rajin punyai catatan, kan mampu kupinjam. Basic otak nakal & pemalas. Saya heran pun, dari mungil saya tak gemar mempelajari tetapi saya mampu dgn enteng menerima apa serta dalam otakku. Bukannya angkuh tetapi yah.., hanya demikian saja. 

Tidak Dengan sadar saya senyum-senyum sendiri, dikala dirinya menegurku, “Ian, anda duduk di sebelahku yah”, pintanya. Saya cuma manggut-manggut saja mengiyakan sambil konsisten terjadi menuju kelas kami. 
“Eh, anda ini lucu serta yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi”, beliau tertawa mungil. Duh maak manisnya temanku ini.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kegaduhan mungil, nyatanya segerombolan cowok-cowok mengganggu & mempermainkan salah satu orang rekan kami yg lebih mungil ukurannya dari mereka, barangkali seputar 155 centimeter. Oh, yah saya sendiri 172 centi meter & beratku 60 kg. Lumayan tinggi akbar utk ukuran cewek kali, yah? 

Lagi-lagi saya belagak nih, padahal memang lah tanganku gatal mau meninju orang, habis sedang gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu pria & tendanganku amat cocok bersarang dibawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka mogok & memandangku. Ada kemarahan di wajah mereka, tetapi saya tak tahu mengapa, mereka serentak ngeloyor bertolak sambil menunjang temannya berlangsung. Akh, saya puas pula. Sejak disaat itu, saya lumayan disegani di kampusku, kemungkinan pun mereka sudah membaca biodataku di buku tahunan. 

Kembali menjajari Santi, saya tanya lagi, “Eh, di mana rumah anda?”. 
Dirinya tersenyum, “Kamu masihlah inget dgn pertanyaanmu sesudah berkelahi barusaja?”, berbicara demikian, tangannya menempel di pundakku & turun mengajak tanganku. 
“Yah, sekali lagi, itu elemen mungil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang lain”, gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan & jari-jari kami yg saling mengait. 
“Ah, sudahlah, janganlah dibicarakan lagi”. 
Bosan pula saya, kan saya kepengen tahu berkenaan anak satu ini eh, malah melenceng dari pokoknya. 

“Aku tinggal di Taman Sari”, jawabnya. Hasilnya meluncur pun jawabannya. 
“Tinggal dgn siapa?”, tanyaku agak bingung, maklum sendirian sih saya. 
“Kost, ama rekan-rekan pun.., tidak sedikit kok”, Beliau menjawab sambil pilih ruang duduk utk kami berdua. Ok, di pojok belakang, menjadi saya sanggup tidur nih. 
“hh, boleh bermain nih, saya bosan sendirian di rumah”, timpalku. 
“Aksen anda kelihatannya bukan dari sini, seandainya saya dari kira kira sini pula sih, anda bukan orang sini, kan?”, Dirinya balik tanya padaku. “Iyah, saya bukan orang sini, namun saya tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya.” 

Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tidak Dengan sengaja tanganku merangkul kursi sebelah & menempel di punggung Santi. Antara sadar & tak, maklum ngantuk, saya seperti merasakan gesekan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir & mulai sejak berdegup kencang. 
Kutengok, nyatanya punggungnya memang lah beliau gesekkan ke tangan kananku sampai jamku serta tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh saya sejak mulai menikmati permainan ini. Bibirnya terbuka sedikit, beliau menengadah & lehernya yg jenjang kulihat amat sangat menantangku. Akh, saya mau mengecupnya, duh saya bergetar. Ada apa ini? 

Saya duduk bersama gelisah, akh dirinya mempermainkan nafsuku. Aduh dapat pening saya dibuatnya. Saya berdoa, mudah-mudahan kuliah ini serta-merta selesai. Bersama sedikit keberanianku, Iih.., saya takut jika didapati sohib lain. Telapak tangan kananku mulai sejak meraba & meremas bahu & tetap turun ke punggung, pinggang, & berakhir di antara dua kantong saku di belakang jeansnya. Dirinya sejak mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu pantatnya yg muat serta di tanganku. Hehehe nyatanya lumayan mungil, namun kenyal, & enaak sekali. Nafasku serta memburu bersama segera. Akhh lamanya kuliah ini. 

Hasilnya, kuliah selesai serta. Permainan kami pula berakhir. Saya tersenyum & dirinya juga membalas senyumku & mengajakku ke belakang (toilet perempuan). Duh, gila serta Santi, apa orang sini berani-berani yah. Tidak Dengan ba-bi-bu kuikuti langkahnya & pokoknya kami telah ada di dalam. Lumayan sepi, lantaran terhitung tetap pagi, belum ada yg ke belakang. Saya bersyukur serta. Lagian yg namanya makhluk berjenis kelamin wanita tak demikian tidak sedikit. Saya pikir-pikir cukuplah main 15 menit. 
Saya duduk di closet & beliau kupangku. Kepalanya serasi di hadapanku. Kami cuma berjarak berapa inchi saja. Nafasnya yg hangat menyapu wajahku. Hidungnya yg agak mancung, dirinya gesek-gesekkan di hidungku, ih geli serta. Saya tak tahan. 

“Hey, I can lift you”, sambil tersenyum beliau bicara. 
“Aku cuman 48 kok, San”, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong dirinya & saya duduk kembali. Dirinya tertawa lirih. 
Tanganku konsisten meraba paha, tetap ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri pinggang & sejak mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku tampak kausnya bertambah padat & dirinya busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu birahinya, duh menempel di punyaku, menekan &, “Terus.., lagi.., dan…” Saya tidak sabar, kubuka kaus ketatnya & gila, Santi memang berbody indah, saya merasa yg dibawah mulai sejak berdenyut-denyut. Bra-nya yg putih mungil, seakan tidak dapat menutupinya, kubuka sekalian, & nampaklah gunung itu atau dapat dikata bukit sajalah. Mungil & menantang, kuelus & kujilati, akh harum, keringatnya mulai sejak ke luar satu-satu agak asin. Akh, saya makin gila. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh dia meremas rambutku & menekan kepalaku pas di belahan itu. Akhh! dia sejak mulai menjepit kepalaku, akhh saya nyaris tidak dapat bernafas. Gila kencang sekali mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh, nafasku sesak nih. Sambil tetap kutekan pantatnya ke perutku. 
Akh, lepas pula kepalaku kemudian dirinya menjerit pelan, kaget serta saya, mengapa ia? Baru sekali ini saya lakukan permainan kait-mengait. Terlebih bersama seseorang gadis. Eeh, apa dirinya tetap gadis? Entar kutanya, namun mataku pernah melirik jam tanganku & saya mengerti permainan ini mesti ditunda, ada kuliah lagi. 

Kukecup lembut & lidahku masihlah mau melumat ke-2 bukit itu, kupasang kembali bra & kaus ketatnya. 
“Entar lagi, yah”, kataku, beliau tersenyum. 
“Makasih, Yan”. 
Kutepuk-tepuk pantatnya & serta-merta kuputuskan. 
“San.., anda ingin pindah ke rumahku?”, tidak dengan pikir panjang pun beliau mengangguk. Kuturunkan ia & saya merasa CD-ku seperti lembab & lengket. 

“San, entar lalu yah”, sambil kubuka retsluiting celanaku & kuraba yg di balik CD-ku merupakan selangkanganku. Jariku basah seperti ada jelly. Ada apa nih? Seketika kubuka agak lebar & saya melongok utk melihatnya lebih terang. Santi mendapatkan jariku yg basah & menghirup pula menjilatinya, “Enak, asin, gurih, harum selangit!” terpana saya menonton mulutnya yg bergetar disaat menggumamkan kata-kata itu. 

Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya & konsisten ke bawah & di balik CD-nya, basah serta. Mengapa kami, yah? Bingung pun yah saya ketika itu. Hehehe, saya sejak mulai gemar permainan ini. Telapak tanganku nyatanya lumayan menutupi selangkangannya, beliau gesek-gesekkan & saya sejak mulai menekan kemaluannya, jari tengahku sejak mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali Santi menggeliat & mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang lah kosong yah? Gila pun nih anak, gunakan program mengerang segala lebih-lebih gunakan menjerit. 
Eh, seakan beliau tahu apa yg kupikir, dirinya mogok & cuma menggigit bibirnya. Saya tak tahan, kulumat lagi bibirnya & kubuka pelan dgn mulutku, & kami berpagutan lagi. Lidahku & lidahnya berkenaan & lama. Matanya terpejam & akh.., saya menemukan daging mungil di dalam, jariku menerobos & sejak mulai masuk sedikit. 

Tiba-tiba meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, “San, anda sempat melaksanakan beginian?”. 
Dia menjawab pelan, “Belum, Yan.., baru sama anda.” 
“Jadi anda masihlah gadis, masihlah punyai selaput?”, kataku. 
“Iya, masihlah. Pelan aja Yan entar sakit.” 
“Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang ini, ada kuliah kan.” 
Kulihat Santi kecewa, namun demi amannya saja sih, padahal sungguh saya bodoh sekali pelajaran biologi, menjadi saya tak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik jariku & dia serta menjilatinya hingga bersih. Ok, entar lagi. Nikmat pula jilatannya. 

Singkat narasi, Santi pindah ke rumah tinggalku & dirinya tidak ingin beda kamar. Maunya satu kamar denganku. Yah, tak apa-apa sih, pass ada yg menemani. Saya mempunyai rutinitas main-main gitar di sore hri, lantaran cuma gitar yg mampu kumainkan. Sekarang Ini tiap kali saya mainkan senar gitar Santi senantiasa menyanyi merdu cuma untukku satu orang. Terkadang saya duduk di kursi enggan beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang & duduk mengangkangi ke-2 kakiku. Dirinya menyukai sekali memanfaatkan daster pendek di atas lutut dgn CD yg kelihatan jikalau angin bertiup agak kencang atau waktu dia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal gampang seperti itu telah pass merangsang nafsuku. Terlebih kalau tengah malam tiba, Santi menggunakan kimono sutra yg sekali talinya kubuka, nampaklah semuanya. 

Tiap tengah malam beliau membuatkan saya susu kegemaranku. Disaat saya asyik duduk di pc sedang online atau mengerjakan pekerjaan, Santi menghampiriku & menempel di punggungku. Factor ini amat sangat kusukai & Santi tahu itu. Saya merasakan lekukan bibir kemaluannya, bukitnya & beliau menempelkannya, merenggangkannya akhh.., mengaduk-aduk emosiku. Serentak saya membalikkan badanku. Kurengkuh tubuhnya & kukempit kakinya bersama ke-2 pahaku yg kuat, kadang Santi meronta & saya juga melepaskannya, biasa kami berlarian seperti dua orang kakak beradik main-main kejar & tangkap. Saya sungguh senang permainan ini. Kadang Santi tiba-tiba mengerem & membalikkan tubuhnya & pasti saja saya menubruknya & jatuh dengan bergulingan saling menindih. Nafas kami yg tidak beraturan sebab berlari-lari saling memburu dgn kecupan-kecupan yg makin menambah ketidakberaturannya nafas kami. Buah dada kami saling menggesek &, “Berat ah.. Yan”, saya dulu dgn sigap tukar posisi di bawah, & dirinya menyeringai puas lantaran Santi teramat tahu saya teramat menyayanginya & tak ingin dia merasa sakit atau apapun. & ingin tahu apa yg dirinya jalankan tiap itu berjalan? Santi membawa susu itu & menuangkannya di vaginanya & saya menjilatinya sampai kepuasan yg teramat kepada kami berdua. Cobalah saja deh atau seandainya siang mampu saja gunakan es sirup, bersama dingin yg mengalir pelan rasakan. 

Kami saling menjaga, menyayangi, & berupaya memberikan kepuasan. Tetapi sempat satu buah dikala beliau sakit demam, duh saya bingung sekali. Kukompres dirinya jikalau panas & kuselimuti dirinya tatkala dingin menyerangnya. Namun beliau tidak mau selimut, beliau ingin tubuhku menyelimutinya & sekali lagi dirinya amat sangat tahu bila saya memang cuma bertindak yang merupakan penghangat tubuhnya bersama kekhawatiran di wajahku yg amat sangat dihafalnya. Santi amat sangat senang sikapku yg melindungi & menyayanginya. Sikap yg bakal membedakan kapan main-main & kapan mesti menjaga & merawat. 

Santi teramat akrab bersama keluargaku, demikian serta saya. Keluarganya & keluargaku sudah saling mengenal & tak mempermasalahkan interaksi kami. Saya bungsu dari empat bersaudara, kupunya 1 orang kakak cowok & 2 kakak wanita sedangkan Santi sulung dari tiga bersaudara, 1 orang adik wanita & 1 orang adik laki laki. Kemana juga kami senantiasa berdua, ke supermarket beli bahan kepentingan sehari-hari, ke mall buat cari baju atau kebutuhan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop utk nonton, & lain-lain kecuali apabila saya & beliau sedang mempunyai gerakan yg tidak serupa. Saya gemar berorganisasi & berolah raga sedangkan dirinya menyukai melukis & main musik. 
Dini hri waktu fajar tiba, sambil tidur saya senantiasa merasakan sesuatu yg berdenyut dibawah & refleks saya menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung bersama sentuhan pantat hangatnya atau cepat perut bersama bukit kembar & selangkangan yg mengaitku. Santi mengerti kebiasaanku di tiap-tiap fajar dini hri & kami serta saling menggesek. 
Sekali merengkuh tubuhnya, dirinya jatuh menindihku & berbaring tiduran di tubuhku. Enak tuturnya, merasakan pelukanku yg hangat, maklum kota ini pass dingin. Pokoknya kami melaksanakan itu kapan saja. tiada bosan-bosannya, soalnya kami sejak mulai ahli sih. Kami mengubah posisi tiap-tiap kali mulai sejak bosan & yahud pula! 

Saya mulai sejak mengerti apa yg namanya liang garba itu. Wah, indah sekali, berapa jarak selaputnya, apa itu clitoris, & butuh dicatat, sejauh ini selaput itu belum robek. Saya tak ingin jika dia sakit, menjadi mulutku cuma mengecup, mengulum & lidahku menjilati agak ke dalam. Dia teramat menyenangi posisi di atas & saya di bawah. Terkadang saya bersi kukuh lumayan lama, kasihan Santi telah 2-3 kali ke luar baru saya ke luar. Apabila saya pasti saja gemar posisi kaki saling mengait & selangkangan kami saling menempel & bergesek makin kencang, menjadi kami dapat orgasme dengan. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya, kuselipkan kaki kiriku, & ke-2 kaki kami saling membelit. Posisi ini menyebabkan cairan kental dari ke-2 kemaluan kami yg ke luar bersamaan bercampur & euunaak sekali. Kadang dgn trik ini Santi telah amat kewalahan mengatur nafas, memekik & menggeliat kencang, ruang tidurku juga berantakan tiap kali kami main-main di kamar. Butuh dicatat, selesai permainan & mandi, ruang tidurku kembali amat rapi lantaran Santi orang yg teramat rajin & menjaga kebersihan. Tak sepertiku, ceroboh. 

Jikalau di dapur dikala beliau memasak saya merengkuhnya & mengecup lembut lehernya serasa kami sepasang suami istri mestinya, mendudukkannya di meja & biasa saya rentangkan ke-2 paha itu & mulai sejak mencumbuinya, kubuka celanaku & kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho. Bila kami main di kamar mandi, yah seperti dua anak mungil yg berteriak-teriak kegirangan saling menyiram tempat-tempat sensitif yg telah amat kami hapal sambil menciumi tempat-tempat itu. Bath-up yg telah sejak mulai terisi bersama busa sabun kuoleskan ke semua tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan lantaran saya takut bila ada apa-apa. Santi gemar sekali telentang diatas tubuhku, “Nyaman, Yan?” jelasnya sambil mencari dimana pinggangku. Kupeluk erat dirinya, kurasakan gunungku menekan punggungnya & satu aspek saya nggak menyukai posisi diwaktu dirinya membalikkan badannya pas ke arahku (di bath-up). Sempat dirinya mencoba & saya tak enjoy menonton kesulitannya mencumbuiku. 

Permainan di beranda pula kami utk berlainan, seperti sepasang kekasih yg slow saling membelai & menata taman sambil tiduran diluar, kami amat sangat menikmati tidur diatas rumput yg lembut. Hanya kadang saya amat sangat risih menonton semut. Menjadi kami nggak demikian memaksakan diri tiduran di taman. Atau saya cemburu & takut sama semut, kalau-kalau semut itu memasuki tempat xxx & menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi cuma dapat meringis kesakitan. Nah, jika yg ini, di area tidur kami seperti dua orang gila yg senantiasa tergila-gila. Tidak Sedikit posisi yg kami melaksanakan, tentu apabila sanggup dgn alami melakukanya. Intinya hanya satu, ikuti kata hati, apabila ingin stop ya stop, ingin nge-sun, sun saja, ingin membelai, belai aja, apabila ingin maju yah maju, jika ingin edit yah pindai posisi, demikian saja, sepele. & seperti sudah jadi sebuah kewajiban bagi Santi buat senantiasa membersihkan punyaku & saya demikian pula, menjilati & saling menghangati ke-2 vagina kami dgn telapak tangan yg saling kami selipkan di antara ke-2 paha kami & hehehehe. Hangat kan, cobalah deh. 

Sempat sebuah diwaktu saya berkonsultasi ke seseorang ahli & beliaunya menjawab jikalau saya sebenarnya termasuk juga transexsual, berjiwa & bertingkah laku pria tetapi badan perempuan, jadinya setengah-setengah bersama hormon yg lebih tidak sedikit type pria. Yg umum sih salah satu lebih agung & mengikuti hormon kelaminnya. Apabila saya ingin, kata beliaunya mungkin saja bedah kelamin. Tetapi anggaran yg dikeluarkan pula teramat akbar. Yah, sudahlah saya seperti ini saja. & sejauh ini Santi senantiasa mendampingiku entah hingga kapan. Telah dua th ini saya nyambi bekerja di kontraktor & saya menikmatinya. Dgn pendapatan yg cukup tinggi, saya sebenarnya bisa menghidupi kami berdua dgn 3 orang sekaligus, contohnya. Kemungkinan selesai kuliah ini, selesai semuanya. Saya sempat tanyakan kepadanya & dirinya cuma tersenyum saja. Dirinya bicara “Yan, janganlah pikir waktu ini, apa yg berjalan besok yakni misteri bagi kita seluruh, kecuali hal-hal yg sudah kita persiapkan”, & kalian tahu hingga sekarang saya belum tahu apa tujuan dari perkataannya. 

Aku Jadi Budak Nafsu Tante Lia


Hasil gambar untuk Aku Jadi Budak Nafsu Tante Lia

Namaku Alan, umurku 20 th dgn tinggi tubuh 185 centimeter & berat tubuh 82 kg. Saya waktu ini bekerja sbg tukang tagih di salah satu dinas di GTLO. Saya lebih gemar perempuan setengah baya berbulu. Saya amat sangat menyukai membaca narasi di cerita17-an.blogspot.com khususnya di sektor “Setengah Baya”. Saya mau menceritakan kisah nyata dgn tanteku sendiri, Tante Lia. Narasi yg dituangkan di sini yakni kisah nyata & bagi yg kebetulan merasa sama nama atau kisahnya mohon dimaafkan itu hanyalah kebetulan. 

***** 

Kejadian ini berlangsung kira kira 6 th yg dulu, saat itu saya tetap berumur 16 th. Saya memiliki seseorang tante bernama Lia yg umurnya ketika itu 36 th. Tante Lia yakni adik dari Mamaku. Tante Lia telah menjanda selagi lima th. Dari perkawinan beliau bersama almarhum suaminya tak di karunia anak. Tante Lia sendiri menyambung business peninggalan dari almarhum suaminya. Ia tinggal di salah satu perumahan yg tak jauh dari rumahku. Ia tinggal dgn satu orang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lia ini orangnya menurutku seksi sekali. Payudaranya gede bulat bersama ukuran 36C, sedangkan tingginya kira kira 175 centi meter dgn kaki langsing seperti peragawati & perutnya rata soalnya ia belum punyai anak. Factor ini membuatku tidak jarang ke rumahnya & betah berlama-lama bila sedang ada ketika. 

& sehari-harinya saya hanya mengobrol bersama tante Lia yg seksi ini & dirinya itu orangnya supel benar tak canggung cerita-cerita denganku. Dari narasi tante Lia dapat saya tebak bahwa dirinya itu orangnya kesepian sekali semenjak suaminya wafat. Sehingga saya berikhtiar menemaninya & sekalian mau menyaksikan tubuhnya yg seksi. Tiap-tiap kali saya menyaksikan tubuhnya yg seksi, saya senantiasa terangsang & saya lampiaskan dgn onani sambil membayangkan tubuhnya. Kadangkala timbul pikiran kotorku mau bersetubuh dengannya namun saya tak berani berbuat macam-macam pada ia, saya takut kelak dirinya dapat beram & melaporkan ke orang tuaku. 

Hri demi hri keinginanku buat sanggup memperoleh tante Lia makin kuat saja. Kadang-kadang kupergoki tante Lia waktu nabis MAlan, beliau cuma menggunakan lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, mau langsung terhubung handuknya & melahap habis badan seksinya itu. Kadang-kadang serta dirinya tidak jarang memanggilku ke kamarnya buat mengancingkan bajunya dari belakang. Memang Lah memancing gairahku

Hingga terhadap hri itu tepatnya tengah malam pekan, saya sedang enggan ke luar dgn kawan-kawan & saya serta berangkat ke rumah Tante Lia. Sesampai di rumahnya, tante Lia baru dapat bersiap makan & sedang duduk di lokasi tamu sambil membaca majalah. Kami serta saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali & Tante Lia memintaku menginap saja di rumahnya tengah malam ini & memintaku memberitahu orang tuaku bahwa saya bakal menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali. 

“Lan, tante ingin tidur lalu ya, udah mengantuk, anda udah mengantuk belum?”, jelasnya sambil menguap. 
“Belum tante”, jawabku. 
“Oh ya tante, Alan boleh gunakan komputernya nggak, ingin teliti email bentar”, tanyaku. 
“Boleh, gunakan aja” jawabnya dulu ia menuju ke kamarnya. 

Dulu saya menggunakan pc di tempat kerjanya & membuka web porno. & konsisten jelas tidak dengan sadar kukeluarkan kemaluanku yg telah tegang sambil menonton gambar perempuan setengah baya bugil. Selanjutnya kuelus-elus batang kemaluanku hingga tegang sekali berukuran lebih kurang 15 centimeter sebab saya telah terangsang sekali. Tidak Dengan kusadari, tahu-tahu tante Lia masuk menyelonong demikian saja tidak dengan mengetuk pintu. Saking kagetnya saya tak pernah lagi menutup batang kemaluanku yg sedang tegang itu. Tante Lia pernah terbelalak menonton batang kemaluanku yg sedang tegang sampai serta-merta saja dirinya tanya sambil tersenyum manis. 

“Hayyoo lagi ngapain anda, Lan?” tanyanya. 
“Aah, nggak apa-apa tante lagi teliti email” jawabku sekenanya. Namun tante Lia kelihatannya sadar jikalau saya kala itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku. 
“Ada apa sih tante?” tanyaku. 
“Aah nggak, tante hanya kepengen ajak anda temenin tante nonton di kamar” jawabnya. 
“Oh ya telah, kelak aku nyusul ya tante” jawabku. 
“Tapi janganlah lama-lama yah” kata Tante Lia lagi. 

seterusnya saya mengusahakan meredam ketegangan batang kemaluanku, dulu saya beranjak menuju ke kamar tante & menemani tante Lia nonton film horor yg kebetulan pun tidak sedikit mengumbar adegan-adegan syur. 

Menonton film itu serta-merta saja saya jadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku serentak saja bangkit lagi. Malah Tante Lia telah memanfaatkan pakaian tidur yg slim & gilanya ia tak memanfaatkan bra sebab saya mampu menonton puting susunya yg agak mancung ke depan. Gairahku memuncak menonton pemandangan seperti itu, namun apa boleh untuk saya tak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku makin tegang saja maka saya terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yg miring. Menyaksikan gerakan-gerakan itu tante Lia rupanya serta-merta menyadari sambil tersenyum ke arahku. 

“Lagi ngapain sih anda,Lan?” tanyanya sambil tersenyum. 
“Ah nggak apa-apa kok, tante” jawabku malu. Sementara itu tante Lia mendekatiku maka jarak kami makin dekat di atas ranjang. 
“Kamu terangsang yah, Lembaga Administrasi Negara, saksikan film ini?” 
“Ah nggak tante, biasa aja” jawabku coba mengendalikan diri. 

Mampu kulihat payudaranya yg akbar menantang di sisiku, mau rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Namun rupanya perihal ini tak dirasakan olehku saja, Tante Lia juga rupanya telah agak terangsang maka dirinya coba membawa serangan apalagi dulu. 

“Menurut anda tante seksi nggak, Lan?” tanyanya. 
“Wah seksi sekali tante” kataku. 
“Seksi mana sama yg di film itu?” tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya maka nampak makin membesar. 
“Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih” kataku. 
“Ah musim sih?” tanyanya. 
“Iya benar tante, swear..” kataku. 

Jarak kami makin merapat dikarenakan tante Lia konsisten mendekatkan tubuhnya padaku, dulu dirinya tanya lagi padaku.. 

“Kamu ingin nggak kalo diajak begituan sama tante”. 
“Mmaauu tante..” Ah, seperti ketiban durian runtuh, peluang ini tak pasti saya sia-siakan, serentak saja saya memberanikan diri buat cobalah mendekatkan diri terhadap tante Lia. 
“Wahh barang anda pass pun, Lan” tuturnya. 
“Ah tante dapat aja.. Tante kok sepertinya semakin lama semakin seksi aja sih.. Sampe aku gemes deh ngeliatnya..” kataku. 
“Ah nakal anda yah, Lan” jawabnya sambil meletakkan tangannya diatas kemaluanku
“Waahh janganlah dipegangin tetap tante, ntar sanggup tambah akbar loh” kataku. 
“Ah yg benar nih?” tanyanya. 
“Iya tante.. Ehh.. Ehh saya boleh pegang itu nggak tante?” kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yg gede itu
“Ah boleh aja kalo anda mau” jawabnya. 

Wah peluang gede, namun saya agak sedikit takut, takut ia beram namun tangan si tante saat ini malah telah mengelus-elus kemaluanku maka saya memberanikan diri utk mengelus payudaranya. 

“Ahh.. Arghh enak Lan.. Anda nakal ya” kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku. 
“Loh kok dilepas sih Lana?” tanyanya. 
“Ah takut tante marah” kataku. 
“Oohh nggak lah, Lan.. Kemari deh”. 

Tanganku digenggam tante Lia, setelah itu diletakkan kembali di payudaranya maka saya pula makin berani meremas-remas payudaranya. 

“Aarrhh.. Sshh” rintihnya sampai makin membuatku penasaran. 

Dulu saya pula cobalah mencium tante Lia, sungguh diluar dugaanku, Tante Lia menyongsong ciumanku bersama beringas. Kami pula dulu berciuman dgn nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yg sekal sekali itu. 

“Ahh anda memang lah hebat Lan.. Terusin Lan.. Tengah Malam ini anda harus memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh”. 
“Tante, saya boleh buka pakaian tante nggak?” tanyaku. 
“Oohh silahkan Lan”, sambutnya. 

Bersama serentak kubuka bajunya maka payudaranya yg gede dgn puting yg kecoklatan telah berada di depan mataku, cepat saja saya menjilat-jilat payudaranya yg benar-benar saya kagumi itu. 

“Arrgghh.. Arrgghh..” lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan. 
“Teruuss.. Teerruuss Lembaga Administrasi Negara.. Ahh enak sekali..” 

Lama saya menjilati putingnya maka tidak dengan kusadari batang kemaluanku pula telah mulai sejak mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya. Dulu sekilas kulihat tangan Tante Lia sedang mengelus-elus sektor klitorisnya maka tanganku juga kuarahkan ke arah bidang celananya utk kulepaskan. 

“Aahh buka saja Lan.. Ahh” 

Nafas Tante Lia terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan saya serta-merta terhubung CD-nya & dulu kuciumi. Waktu Ini Tante Lia telah bugil keseluruhan. Kulihat liang kemaluannya yg penuh bersama bulu. Dulu bersama pelan-pelan kumasukkan jariku buat menerobos liang kemaluannya yg telah basah itu. 

“Arrhh.. Sshh.. Lan.. Enak sekali” jeritnya. 

Sesudah puas jariku bergerilya dulu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya buat menjilati bibir kemaluannya yg licin & mengkilap itu. Dulu bersama nafsu kujilati liang kemaluannya dgn lidahku turun naik seperti mengecat saja. Tante Lia makin kelabakan sampai beliau menggoyangkan kepalanya ke kanan & ke kiri sambil meremas payudaranya. 

“Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh”, dgn makin langsung kujilati klitorisnya & jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yg makin basah. 

Sekian Banyak diwaktu setelah itu tubuhnya bergerak bersama liar kelihatannya dapat orgasme. Dulu kupercepat jilatanku & tusukan jariku maka dirinya merasa keenakkan sekali dulu dirinya menjerit.. 

“Oohh.. Aarrhh.. Tante udah keeluuaarr Lembaga Administrasi Negara.. Ahh” sambil menjerit mungil pantatnya digoyang-goyangkan & lidahku tetap konsisten menjilati sektor bibir kemaluannya maka cairan orgasmenya kujilati hingga habis. Setelah Itu tubuhnya slow seperti lemas sekali. 

“Wah nyata-nyatanya anda hebat sekali, tante telah lama tak merasakan kepuasan ini loh..” ujarnya sambil mencium bibirku maka cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lia. Sementara itu batang kemaluanku yg tetap tegang di elus-elus oleh tante Lia & saya serta masihlah memilin-milin puting tante yg telah makin keras itu. 

“Aahh..” desahnya sambil tetap mencumbu bibirku. 
“Sekarang giliran tante.. Tante dapat untuk anda merasakan nikmatnya badan tante”. 

Tangan tante Lia serta-merta menggerayangi batang kemaluanku dulu digenggamnnya batang kemaluanku bersama erat maka agak terasa sakit namun kudiamkan saja sebab terasa enak serta diremas-remas oleh tangan tante Lia. Dulu saya pun tak ingin kalah, tanganku pun konsisten meremas-remas payudaranya yg indah itu. Rupanya tante Lia mulai sejak terangsang kembali diwaktu tanganku meremas-remas payudaranya dgn sesekali kujilati putingnya yg telah tegang itu, seolah-olah seperti orang kelaparan, kukulum tetap puting susunya maka tante Lia jadi makin blingsatan. 

“Aahh anda menyukai sekali sama dada tante yah, Lan?” 
“Iya Tante abis tetek tante wujudnya amat sangat merangsang sih.. Tetap gede tetapi tetap terus kencang..” 
“Aahh anda benar-benar pandai muji orang, Lan..” 

Sementara itu tangannya tetap tetap membelai batang kemaluanku yg kepalanya telah berwarna kemerahan tapi tak dikocok cuma dielus-elus. Dulu tante Lia sejak mulai menciumi dadaku konsisten turun ke arah selangkanganku maka saya pula mulai sejak merasakan kenikmatan yg luar biasa hingga hasilnya Tante Lia berjongok dibawah ranjang dgn kepala jelang batang kemaluanku. Sedetik selanjutnya dirinya sejak mulai mengecup kepala batang kemaluanku yg sudah mengeluarkan cairan bening pelumas & merata tersebut ke semua kepala batang kemaluanku bersama lidahnya. 

Saya memang merasakan nikmatnya service yg diberikan oleh Tante Lia. Dulu ia sejak mulai terhubung mulutnya & dulu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap & menjilati semua bidang batang kemaluanku maka basah oleh ludahnya. Selang sekian banyak menit sesudah tante lakukan hisapannya, saya mulai sejak merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruhnya batang kemaluanku dulu kuangkat Tante Lia selanjutnya kudorong perlahan maka beliau telentang di atas ranjang. Bersama penuh nafsu kuangkat kakinya maka dirinya mengangkang sesuai di depanku. 

“Aahh Lana, ayolah masukin batang kemaluan anda ke tante yah.. Tante udah nggak sabar ingin ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan anda itu”. 
“Iiyaa tante” kataku. 

Dulu saya mulai sejak membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tetapi saya tak serta-merta memasukkannya namun saya gesek-gesekan lebih-lebih dahulu ke bibir kemaluannya maka tante Lia lagi-lagi menjerit keenakan.. 

“Aahh.. Aahh.. AyolahLan, janganlah tanggung-tanggung masukiinn..” 

Dulu saya mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya maka agak susah memasukkan batang kemaluanku yg telah tegang sekali itu. 

“Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Lan.. Teruss-teruuss.. Aahh” 

Saya sejak mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante Lia maka dirinya merasakan kenikmatan yg luar biasa diwaktu batang kemaluanku telah masuk semuanya. Seterusnya batang kemaluanku sejak mulai kupompakan dgn perlahan tetapi dgn aktivitas memutar maka pantat Tante Lia serta ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali sebab goyangan pantat tante Lia menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yg seret itu & rasanya seperti empotan ayam. Sementara itu saya konsisten menjilati puting & menjilati leher yg dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lia mendekap pantatku keras-keras maka kocokan yg kuberikan makin serentak lagi. 

“Oohh.. Sshh..  Lan.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya saya makin bernafsu buat serentak menyelesaikan permainan ini. 
“Aahh.. Segera  Lana, tante ingin keluuaarr.. Aahh” 

Badan tante Lia kembali bergerak liar maka pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dirinya kembali orgasme, mampu kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yg sedang merojok-rojok liang kemaluannya. 

“Aahh.. Sshh.. Sshh”, desahnya, dulu tubuhnya kembali slow menikmati sisa-sisa orgasmenya. 
“Wahh anda benar-benar hebaat  Lan.. Tante sampe keok dua kali sedangkan anda masihlah tegar” 
“Iiyaa tante.. Bentar lagi pun Alan ke luar nih..” ujarku sambil konsisten menyodok liang kemaluannya yg berdenyut-denyut itu. 
“Aahh enak sekali tante.. Aahh..” 
“Terusin  Lan.. Tetap.. Aahh.. Sshh” erangan tante Lia membuatku makin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya. 
“Aauuhh pelan-pelan  Lan, aahh.. Sshh” 
“Aduh tante bentar lagi saya udah ingin ke luar nih..” kataku. 
“Aahh..  Lana.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante ingin ngerasain.. Ahh.. Shh.. Ingin rasain siraman hangat peju anda..” 
“Iiyyaa.. Tante..” 

Dulu saya mengangkat kaki kanan tante maka posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku. 

“Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Alan ingin ke luar nih.. Ahh” dulu saya memeluk tante Lia sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, tante Lia memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. 
“Aahh tante pula ingin ke luar lagi aahh.. Sshh..” dulu dgn sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya maka kumpulan air maniku yg telah mandek menyembur bersama dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott.. 
“Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh..” Sewaktu dua menitan saya masihlah menggumuli badan Tante Lia utk menuntaskan semprotan maniku itu. Dulu Tante Lia menbelai-belai rambutku. 
“Ah anda nyatanya satu orang jawara, Lan..” 

Sesudah itu ia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya seterusnya dimasukkan kembali ke dalam mulutnya buat dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. & seterusnya kami berdua juga tidur saling berpelukan. Tengah Malam itu kami melakukannya hingga tiga kali. 

Sesudah kejadian itu kami tidak jarang jalankan jalinan sex yg kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Interaksi kami serta berlangsung tatkala dua th & hasilnya didapati oleh orang tuaku. Dikarenakan merasa malu, Tante Lia serta pindah ke Jakarta & menjalankan usahanya di sana. Saya memang lah teramat kehilangan Tante Lia & semenjak kepindahannya, tante Lia tak sempat menghubungiku lagi. 

***** 

Begitulah kisah nyata antara saya dgn tanteku sendiri sampai menyebabkan saya lebih gemar pertalian sex bersama perempuan setengah baya. Bagi para perempuan setengah baya yg mau bertaaruf denganku utk share pengalaman & sharing rasa denganku, kirim email saja untukku, saya tentu bakal membalasnya. Thanks.. 

Lubang Mamah Yang Hangat

Hasil gambar untuk Lubang Mamah Yang Hangat+bugil

Saya baru saja merekrut sekretaris baru dikarenakan sekretarisku yg lama telah malas-malasan & kurang profesional, lebih-lebih sesudah dirinya menikah. Oh ya, nyaris lupa, saya bekerja di satu buah perusahaan swasta yg sedang naik daun, tepatnya di satu buah bank swasta. Tidak kuduga, sekretaris baruku itu memang lah bukan saja tetap perawan, tetapi rajin, pintar & yg paling utama lagi ialah bodinya yg montok & parasnya yg menawan, dgn kulit putih bersih tidak dengan cela. Dari pandangan mata perdana kali disaat kuwawancarai saya serentak terpikat & dari sorot matanya juga sikapnya terhadapku, saya pula faham seandainya dirinya menyukai padaku. 

Wah, pas deh, rasanya kepada pekan perdana hari-hari di kantor demikian indah & rasanya amat serta-merta berlangsung. Namanya Indah Ningsih Purwati, oh... rasanya kerjaku makin bersemangat. Tiap-tiap kali beliau datang ke kamar kerjaku mengambil surat atau minumanku, saya mulai sejak menancapkan busur-busur asmaraku dari mulai sejak menggenggam tangannya, mencium hidung & keningnya namun tetap pass sopan, janganlah hingga ia kaget atau beram. Tetapi saya percaya, dirinya juga mau diperlakukan begitu lantaran nyatanya ia tidak menolak bahkan kerjanya makin rajin & cekatan bahkan tidak sempat bolos (termasuk juga disaat datang matahari, eh datang bln). Kupikir tidak apa, malah saya suka, toh saya belum ingin gunakan, yg mutlak dapat mencium bibirnya, hidungnya, keningnya & dari hri ke hri kami makin tenggelam dalam asmara. Dikala itu, th 1982, beliau telah miliki doi bahkan pacarnya tetap memintanya buat cepat menikah. Herannya, menurut pengakuannya, ia makin benci & tak berniat kawin bersama pacarnya itu. Weleh-weleh- weleh, rupanya jerat cintaku sudah merasuki jiwanya. 

Hingga sebuah hari(3 bln selanjutnya), saya MembeRenikan diri utk mengajaknya bertolak keluar kota di hri pekan, sebab tak barangkali kami mencurahkan cinta kasih kami di kantor. Ia setuju & berjanji buat menungguku di satu buah pasar swalayan tidak jauh dari rumahnya. Sehingga saat mobil kami meluncur di toll Jagorawi menuju Bogor & setelah itu ke Pelabuhan Ratu Sukabumi, hati kami makin berbunga-bunga lantaran kami dapat sanggup mencurahkan segalanya tidak dengan takut ketahuan orang atau Petugas lain di kantor maklum kedudukanku yang merupakan kepala cabang bank swasta terkemuka di samping telah beristeri & beranak dua. 

"Ning...." kataku pelan diwaktu mobilku ke luar pintu toll. 
"Ada apa Pak?" Ningsih menjawab manis, sambil melirikku. 
"Sekarang jangan sampai panggil Bpk, panggil saja Papah, supaya kelak orang mengira kita ini suami-isteri. " Dirinya mencubit pahaku sambil tersenyum manja, & tangannya kutahan utk konsisten memegang pahaku, beliau mendelik manja namun serta setuju. 
"Pah... anda nakal deh", sambil mencubit sekali lagi pahaku. Wah, rasanya saya seperti terbang ke langit mendengar Ningsih mengemukakan "Papah" seperti yg kuminta. Sebaliknya, saya juga sejak mulai dikala itu memanggil Ningsih dgn sebutan "Mamah" & kami saling memagut cinta sepanjang perjalanan ke Pelabuhan Ratu itu, laksana sepasang sejoli yg sedang mabuk cinta atau pengantin baru yg bakal ber-"honey-moon" , maka tidak terasa mobilku telah memasuki halaman Hotel Samudera Beach. Pelabuan Ratu yg berada di pinggir Samudra Hindia bersama ombaknya yg ternama garang. Laksana suami isteri, saya & Ningsih masuk & menuju "reception desk" utk check-in minta satu kamar yg menghadap ke laut lepas. Pegawai resepsi dgn ramah & tidak dengan rewel (mungkin saja lantaran saya Ber-Mamah-Papah & nampak juga sebagai suami isteri yg teramat pas, sama rupawan & cantiknya) langsung memberikan kunci kamar, sambil minta satu orang room-boy mengantar kami ke lokasi hotel di lantai tiga bila saya tidak salah. Langsung kututup pintu kamar, di-lock sekaligus & pesan agar kami tak diganggu lantaran ingin beristirahat. Saya & Ningsih duduk berhadapan dipinggir ruangan tidur sambil tersenyum mesra penuh kemenangan. Hasilnya, harapan yg senantiasa kuimpikan buat berdua-duaan bersama Ningsih nyatanya terlaksana pula. Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Ningsih menggelinjang geli. Kusodorkan mulutku buat mendapati mulutnya, beliau terpejam manja & saat bibir kami bersentuhan & kuulurkan lidahku ke bibirnya, nyatanya ia serta-merta menyedot & melumat lidahku dalam-dalam. "Ooohhgghh, Paahh", Ningsih sejak mulai terangsang & merebahkan badannya, saya serta-merta saja menggumulinya & menaiki badannya, Ningsih melenguh & terpejam, kemaluanku bergesekan bersama selangkangannya & bau harum parfumnya makin merangsang nafsuku. "Paahh, kita buka pakaiannya lalu, kelak lecek." Oh, harum sekali mulutnya, kulumat habis wajahnya, kupingnya, jidatnya & mulutnya. "Paahh, bandel nih, kita buka lalu bajunya!" Saya tetap terengah-engah menahan nafsuku yg membara, kemaluanku makin menegang menggesek selangkangannya. "OK Mahh... yuuk di buka dahulu." 

Lantaran telah sama-sama ngebet, kami saling membukakan baju & sesudah T-Shirt-nya kulepas, nampak sepasang gunung menyembul putih, & mulus sekali. Kami berpandangan sesudah tidak selembar benang pula menempel. Kudekap Ningsih yg mulus, putih, harum itu, kujilati semuanya sambil berdiri, sementara kemaluanku telah tegang memerah, lebih-lebih waktu Ningsih mulai sejak meraba & meremas batang kemaluanku. Kutelentangkan dirinya di ruangan tidur. Oh... betapa mulusnya tubuh Ningsih, sempurna sekali seperti bidadari. Pinggulnya yg montok, buah dadanya yg putih kencang dgn puting merona merah & kemaluannya yg dijalari rambut kemaluan yg tak terlampaui lebat terang menampakkan wujudnya yg sempurna tidak dengan cacat, & kelentit yg merah kelihatan rapi & belum menonjol ke luar lantaran benar-benar Ningsih tetap perawan. Kujilati dari ujung kaki hingga ujung jidatnya yg mulus, naik ke atas, berakhir lama dibawah kemaluannya. Kumainkan lidahku di antara selangkangannya, Ningsih melenguh, tetap kukulum-kulum kemaluannya, klitorisnya yg merah & beraroma harum, tambah lama tambah merambah ke dalam lubang kemaluannya yg merah. 
"Ogghh, Paahh, geliii.., terusss Pahh, ogghh, tetapi janganlah terlampaui dalam Pahh..., saakiiit." 
"Yaa, sayanggg", sambil tetap lidah & mulutku mengulum kemaluan & kelentitnya yg sejak mulai terasa agak asin dikarenakan cairan kemaluan Ningsih mulai sejak ke luar. 
"Ogghh, Paah..., adduuhh, Paahh, gelii, Pahh, Mamah kayaak maauu... ogghh." Saya konsisten menjilati semua kemaluannya dgn membabi buta, kuhirup semua cairannya yg wangi itu, sekali-kali lubang pantatnya kujilati & Ningsih menggelinjang & merintih tiap-tiap kali kujilat pantatnya. 

Penisku makin tegang & keras, urat-uratnya nampak terang menegang, saya tahan tetap agar tak ejakulasi duluan. Saya mau memuaskan Ningsihku yg pastinya baru merasakan kenikmatan surga dunia ini dengan lelaki yg dicintainya. "Paahh, eemmggghh.., teruss... Paahh, geellii..., oooggghh..., Pappaahh jaahhaatt!" saya tetap saja konsisten melumat, memamah, menggigit-gigit mungil lubang kemaluan & klitorisnya yg merah & beraroma wangi, & pantat Ningsih makin serta-merta naik turun kelihatannya ingin biar lidahku makin masuk ke lubang kemaluannya. "Paahh, naik Paahh, udaahh donnkk, Mamahh nggak tahaan", sambil menarik tanganku. Matanya terpejam ayam, buah dadanya yg putih, mulus & mengkel kelihatan naik turun. Saya menaiki badannya & penisku yg telah seperti besi terasa menggesek bulu kemaluannya & menempel hangat disela-sela kemaluannya yg makin basah oleh ludahku & cairan vaginanya. Kuremas & kuhisap buah dadanya, kukulum puting susunya yg merah jejaka, terasa sedap & manis. Ningsih menggelinjang & makin melenguh. "Maahh, masukin yaa, penis Papah", beliau mengangguk sambil masihlah terpejam. Kubidikan penisku yg telah keras itu kelubang kemaluannya, & kujajaki sedikit-sedikit lubangnya, maklum Ningsih masihlah perawan, saya tak akan menyakitinya. "PPPaahh, masukkaan cepatt... Mamah nggak tahan Paah aahh..." Kutancapkan penisku lebih dalam, Ningsih merintih nikmat, pantatku naik turun utk mencari lubang kemaluannya yg masihlah belum tertembus penis itu, Ningsih konsisten menggoyangkan pantatnya naik turun sambil tetap merintih. "Maahh, penis Papahh udahh masuukk, oogghh mahh, vaginanya lezat, menyedot-nyedottt. .. penis..." saya mulai sejak merasakan kenikmatan yg luar biasa, lantaran di samping Ningsih masihlah perawan, vaginanya serta miliki keistimewaan yg tidak jarang dinamakan "empot-empot ayam" itu. Tambah lama, penisku tambah melesak jauh ke dalam vagina Ningsih & ada sekian banyak tetes darah sbg tanda keperawanannya diberikan kepadaku, boss-nya, kekasih barunya. Oh, betapa bahagianya hati ini. "Paahh, saakkiitt, Paahh, tetapi enaak, oooggghh.. Paahh, konsisten, goyang paahh..., oooghh, cepeetiinn paahh..." Saya makin mempercepat goyangan pantatku naik turun & penisku telah mampu masuk semuanya ke lubang kemaluan Ningsih. Saya bangun & duduk sambil kupeluk Ningsih buat duduk berhadap-hadapan dgn tak melepaskan penisku. Ningsih duduk di pangkuanku bersama kaki melonjor ke belakang pantatku. Penisku tetap menancap di vaginanya & Ningsih sejak mulai menaik-turunkan pantatnya. "Paahh, oggghh... pahh", sambil melumat bibirku & menggigitnya. "mmaahh,oogghh, aememmhh... maahh, goyang terusss..., Papah ingin keluarrrr." Ningsih makin beraksi menaik turunkan pinggulnya yg bahenol & putih bersih & saya pula meladeninya dgn menaik-turunkan pantat & penisku makin kencang serta. 
"Pppaahh... Papahh mesti tanggung jawab yaa, bila Ningsih hamil", ucapnya di sela-sela nafasnya yg makin ngos-ngosan. 
"Ningsiha... emmhhggg, sayang Pappaahh... biarin mengandung anak Papaah", manjanya. Saya mengangguk saja karena saya amat sangat mencintainya. 
"Paahh... oogghh... emmgghh... Ningsiha mauuu... keluaarrr... oomhh." "Papahh.. jugaa... sayanggg.... "jawabku sambil telentang agi sedangkan Ningsih terus nongkrong berada di atas badanku & vagina pula pantatnya naik turun makin segera melumat habis batang penisku.

"Paahh... Mamahh... oooghh... sssakittt, oooggghh... tapiii.. ennaakk", waktu kubalikkan badannya & kutancapkan penisku dari belakang. Kugenjot konsisten penisku ke luar masuk lubang kemaluannya sambil kuremas-remas pinggulnya yg mulus & montok seperti gitar itu, Ningsih makin merintih, saya serta makin tersengal-sengal menahan nafasku & penisku yg makin liar. Ketika telah berlangsung lebih kurang 50 menit sejak kami masuk kamar. Kuat pula pikirku, bisa jadi berkat latihan yogaku yg lumayan rutin, maka sanggup menahan emosi & pass nafas. Saya benar-benar rada jago serta dalam main-main asmara di ranjang. 
"Terruusss... Paahh... eemmhh... ogghh... Paahh... Paahh, ggghh... Mamahh maaooo keluaarr... oogghh... bareng Paahh." Kucabut dahulu penisku & Ningsih kuminta buat telentang kembali & lantas kutindih lagi karena saya mau menatap & menciumi wajah kekasihku dikala kami sama-sama ejakulasi. Kutancapkan kembali penisku ke vaginanya yg nampak makin memerah, kujilati lalu lendir-lendir di kemaluannya hingga lumat & kutelan bersama nikmat. Ia menggeliat, 
"Cepat dong masukan lagi penisnya Pah!" &, 
"Bbbleess", oh nikmat sekali rasanya vagina perawanku tercinta ini. Saya seperti di awang-awang, saling mencintai & dicintai. Kugoyang tetap pantatku makin lama makin kencang & penisku ke luar masuk vaginanya bersama rupawan, Ningsih konsisten melenguh kenikmatan sambil tangannya memilin-milin puting susuku makin mengambil nikmat. Ningsih makin menggila goyangannya mengimbangi ke luar masuk penisku ke vaginanya, penisku terasa disedot-sedot & dijepit dgn daging lunak yg ngepres sekali. Keringat kami makin bercucuran & makin membangkitkan gairah cinta, seterusnya tiba terhadap puncak gairah cinta & surga dunia kami yg terindah, paling berkesan sekali disaksikan laut kidul, & kami berdua serempak berteriak & mengejang, "Paahh... Maahh... oogghh... mauuu keluuuarrr.. . ogghh... baarrrreeengg... yuuu..., oooghh... sayaang." Kami sama-sama mengejang, mengerang, merengkuh apa serta yg mampu direngkuh, suatu klimaks dua manusia yg saling mencintai & baru dipertemukan, biarpun telah agak telat sebab saya telah berkeluarga. 

Sejak itu, saya tetap memadu kasih kapan & dimana saja (umumnya diluar kota) hingga Ningsih kawin & ke luar dari perusahaanku. Anak-anaknya ialah anak-anakku pula bahkan wajahnya serupa wajahku & kadang-kadang kami masihlah berjumpa memadu kasih sebab kami tak mampu melupakan saat-saat indah itu. Kapan dapat mogok perselingkuhan ini, kami tak tahu lantaran cinta kami amat mendalam. 

Ningsih sudah ke luar dari kantor cabang bank yg kupimpin di bilangan Slipi, lantaran beliau dipaksa kawin bersama satu orang cowok yg tak dicintainya. Tapi juga sebagai anak yg taat sama orang lanjut umur, terpaksa mesti mengikuti kemauan orangtuanya & ikut dgn suaminya kemudian ke Bandung, dikarenakan suaminya bertugas di kantor pajak ja-bar. Sebulan sebelum menikah beliau kuajak ke Singapore buat operasi selaput dara, lantaran saya tak mau Ningsihku bermasalah dgn suaminya terhadap tengah malam pengantinnya. Kami menginap di satu buah hotel di kawasan Orchard Road yg ramai & penuh pertokoan tatkala tiga tengah malam & satu tengah malam yang lain saya menungguinya di Rumah Sakit Elizabeth yg ternama & serentak ditangani oleh dr. Lie Tek Shih, spesialis operasi plastik, kenalan lama aku. Tengah Malam sebelum operasi selaput dara, kami menumpahkan seluruhnya kasih sayang semalam suntuk di hotel bintang empat itu, & tengah malam itu yakni tengah malam yg ke 24 (dikarenakan Ningsih rajin mencatat tiap-tiap jumpa kami) kami memadu kasih & terlarut dalam kebersamaan yg ga ada tara sejak yg perdana di "Samudera Beach" Pelabuhan Ratu. 

"Papah", Ningsih bersender manja di dadaku di kamar hotel itu. 
"Apa sayang?" jawabku sambil mencium rambutnya yg harum. 
"Mamah... Mamah nggak ingin kawin & meninggalkan Papah", rengeknya manja. 
"Memangnya mengapa sayang?" jawabku sambil mengusap sayang payudaranya yg putih ranum. 
"Mamah nggak cinta sama calon suami pilihan Bpk, lagi juga Mamah nggak ingin meninggalkan Papah sendirian di Jakarta." Matanya kelihatan mulai sejak berkaca-kaca, "Mamah teramat sayaang sekali sama Papah, Mamah cintaa sekali sama Papah, Mamah tidak rela badan & segala milik Mamah dijamah & dipunyai orang lain tidak cuma Papah, achh... mengapa Tuhan mempertemukan kita baru waktu ini? sesudah Papah miliki isteri & anak?" Ningsih konsisten bergumam sambil membelai dadaku & sesekali mempermainkan puting susuku yg makin keras. 

"Mahh, sudahlah, itu telah diatur dari sananya demikian, bila dipikir, Papah pula nggak rela anda dijamah pria lain, Papah tidak kuasa membayangkan dengan cara apa tengah malam pengantinmu kelak, tetapi semuanya telah dapat jadi kenyataan yg tak mungkin saja kita robah." Saya menciumi semua mukanya bersama segenap kasing sayang, seakan kami tak akan terpisahkan, air mata kami berlinangan campur jadi satu dalam kesenduan & kemesraan yg tidak sempat mogok tiap-tiap kali kami memadu kasih. 

"Papaahh, nikmatilah Ningsihmu sepuasmu Pahh, sebelum orang lain menjamah tubuhku." Ningsih menarik tanganku ke buah dadanya & merebahkan badannya ke kasur empuk suatu double-bed. Saya beringsut mendekatinya, sambil kurebahkan badanku disamping tubuhnya yg putih mulus & seksi itu. Kuusap-usap penuh mesra & kasih sayang buah dadanya yg putih ranum bersama putingnya yg merona merah. Kujulurkan mulut & lidahku ke puting buah dada kirinya yg jelasnya langsung menciptakan rangsangan berahinya timbul. 

"Paahh..., gelliii... sayaang... oooggghh, Paahh..., naikin Mamaahh... Paahh..." Matanya merem ayam & dadanya makin turun naik. 
"Iyyaa, yaanng..." saya serta-merta menindihi badannya, & penisku sejak mulai kembali tegang. Tiba-tiba Ningsih membalikkan badannya & mendadak merenggangkan ke-2 kakiku. Tidak hingga satu menit, Ningsih telah mengulum penisku yg makin mengeras & mengkilat kepalanya hingga batangnya amblas seluruhnya ke dalam mulutnya. 
"Oogghh, Paahh, telah assiiinnn, Papah telah ngiler nih, namun nikmat kok, Mamah senang?" Saya makin merem melek, 
"Ogghh, Mmaahh, geellii, sayaang, nikmaatt, ogghh." Ningsih mengenyot biji pelirku & menggigit-gigit sayang, sampai saya menggelinjang geli & nikmat. Ningsih benar-benar pintar, hebat, telaten & menawan. Saya terkadang tidak senang & tidak rela ia kelak ditiduri & dijamah lelaki lain, meskipun itu suaminya. Saya terpikir buat menggodanya. 
"Mah, apa kelak suamimu pun dijilati begini?" Ningsih mogok melumat & menjilat penis & buah pelirku sejenak. Matanya mendelik & mencubit pantatku keras sekali. 
"Jangan menyakiti hati Mamah ya Pah, Mamah sumpah nggak bakal seperti ini, seperti bermain sama Papah, walau kelak lelaki itu resmi menjadi suamiku", Ningsih iseng mengusap-usap penisku penuh sayang sambil nyerocos lagi. 
"Percaya dech pah, Ningsih hanya cinta sama Papah, paling-paling seandainya main-main kelak sama dirinya sekedar dikarenakan kewajiban, supaya saja kayak gedebong pisang." 
"Benar ya Mah, Papah nggak rela apabila anda bermain sama beliau dirasain, tetap ikut goyang & melenguh, Papah tentu merasakannya" , kataku menimpali. 
"Nggak dapat sayang, Mamah cuma manja & menikmati seluruhnya bila ngewe sama Papah, yakin dech sayang." Ningsih kembali naik di atas badanku & penisku konsisten diusap-usapnya & sesekali dikocoknya persis di bidang kepalanya, maka segera tegang & berdiri perkasa menampakkan otot-ototnya. Ningsih mengangkat sedikit pantatnya ke atas & menyelipkan penisku yg makin perkasa ke lubang kemaluannya yg mulai sejak basah & licin. Penisku nggak demikian panjang benar-benar, paling seputar 15 sentimeter, namun kerasnya seperti besi, & Ningsih senantiasa menikmati klimaks bersama amat sangat bahagia bahkan sanggup berkali-kali klimaks dalam tiap-tiap kali berhubungan denganku. Pantatnya mulai sejak bekerja naik turun & pantatku pula mengimbanginya dgn menekan-nekan ke atas, maka Ningsih makin merem melek keasyikan. "Ppaahh, aagggghh... konsisten teken sayaang... Mamaahh eennnaakk adduuhh Paahh.., oogghh.., Mamaahh, cintaa.. yaangg..." Senantiasa saja Ningsih nyerocos mulutnya jika lagi keasyikan vaginanya melumat penisku. Vaginanya mulai sejak lagi menyedot-nyedot penisku bersama "empot ayamnya" yg tidak dapat kulupakan. 

"mmaahh.... ooogghh... aduuhh, Maahh, nikmaat, sayaang.. teruuuss Maahh, goyaanng." Saya mulai sejak merasakan kenikmatan yg luar biasa. Kuremas-remas buah dada & putingnya, sampai beliau kegelian & makin kencang menaik-turunkan pantatnya, hingga bunyi gesekan penis & vaginanya makin terdengar. Ningsih membalikkan badannya & membelakangiku namun dgn posisi masih di atas tubuhku tidak dengan mengeluarkan penisku dari kemaluannya. Saya paling bernafsu apabila menyaksikan pantat Ningsih yg putih mulus & bahenol turun naik di depan mataku sambil vaginanya konsisten menghisap-hisap batang penisku hingga amblas semuanya ke basic kemaluannya. Tiba-tiba, "Pppaahh, oggghh, Papaahh, Mamahh maooo keluaarr.... ooghh... Papaahh... aa.. aa... aagghh aaggghh, Mamaahh duluaannn Pahh...." Ningsih terkulai lemas sambil menyubit keras pantatku & berbalik kembali menindih tubuhku, sambil memegang penisku yg masihlah berdiri tegak & belepotan lendirnya. "Bandel nich... ayo cepeten masukin lagi, Mamah yg dibawah!" perintahnya manja sambil menciumi wajahku. Ke-2 badan kami mandi keringat, rasanya puas sekali tiap-tiap bersetubuh dgn Ningsihku sayang. 
Saya tersenyum puas, saya benar-benar nggak egois, supaya Ningsihku dahulu yg terkulai lemas menikmati klimaksnya, saya dapat menyusul setelah itu & Ningsih senantiasa melayaniku bersama penuh kasih sayang & kesabaran. Kubalikkan tubuhnya, kujilati bersama kulumat lendir-lendir di vaginanya, kujilat, kugigit sayang klitoris & vaginanya, dirinya menggelinjang kegelian. Kutelan seluruh lendir Ningsihku, sementara itu penisku masihlah berdiri tegak. 

"Cepat masukin penisnya sayang, Mamah ingin bobo nich.., lemas, ngantuk", kicaunya. Sesudah kubersihkan vaginanya bersama handuk mungil, kumasukkan lagi penisku, aduh nyata-nyatanya lubang vaginanya menyempit kering lagi, menambah nikmat terasa di penisku. 
"Mmaahh, eennaak... Maahh, oogghh, sempit lagi Maahh..." sambil tetap kutekan ke atas & ke bawah penisku. 

Saya sedikit mengangkat badanku tidak dengan mencabut penisku yg terbenam penuh di vagina Ningsih, setelah itu kaki kanan Ningsih kuangkat ke atas & saya duduk setengah tubuh dgn tumpuan ke-2 dengkulku. Ningsih memiringkan sedikit badannya dgn posisi kaki kanannya kuangkat ke atas. Dgn posisi begitu, kusodok tetap penisku keluar & ke dalam lubang vaginanya yg merah basah. Ningsih sejak mulai melenguh kembali & saya makin bernafsu menusukkan penisku hingga basic vaginanya. "Ooggghh, Maahh, ooogghh.. nikmat sekali sayang", lenguhku sambil memejamkan mataku merasakan kenikmatan vagina Ningsih yg menyut-menyut & menyedot-nyedot. "Paahh.. Mamah enaak lagi, ooogghh... Paahh", beliau mulai sejak melenguh lagi keenakan. Saya makin bersemangat menusukkan penisku yg makin tegang & rasanya air maniku telah naik ke ujung penisku buat kusemburkan di dalam kemaluan Ningsih yg hangat membara. Kubalikkan tubuhnya agar tengkurap & bersama bertumpu kepada ke-2 dengkulnya saya ingin bersenggama bersama doggy style, biar penisku dapat kutusukkan ke vaginanya dari belakang sambil menyaksikan pinggul & pantatnya yg putih & indah. Dalam posisi senggama menungging demikian, saya & Ningsih merasakan kenikmatan yg amat sempurna & dahsyat. Terlebih saya merasakan lubang vaginanya makin sempit menjepit batang penisku & sedotannya makin menjadi-jadi. "Paahh... teruuuss genjoott.. Paahh..." Ningsih sejak mulai mengerang lagi keenakan & pantatnya makin mundur maju maka lubang vaginanya nampak terang melahap seluruhnya batang penisku. "Blleesss, shhoottt... bleesss... srooottt, sreett crreeckkk... " gesekan penisku & vaginanya makin asyik terdengar bercampur lenguhan yg makin nyaring dari dua anak manusia yg saling dilanda cinta.

"Maahh, ooggghh... adduuuhh, Yaangg... emghh, Papah enaakk, ooghh!" saya tergoncang-goncang & dengkulku makin lemas menahan kenikmatan & nafsuku yg makin menggelegak. Sementara itu keringatku makin bercucuran membasahi kasur walau AC lumayan dingin di kamar hotel itu. 

"Paahh, ooogghh, teruuusss tusuuk Paahh..." Ningsih merintih-rintih ke asyikan, kayaknya dapat klimaks lagi. Rupanya Ningsih nggak ingin tahu bila posisi persetubuhan dikala itu bakal mogok 2-1 buat kemenanganku, & entah dapat membuahkan score berapa hingga pagi hri kelak, soalnya mumpung ketemu sebelum dirinya dikawinkan. Ningsih memintaku utk telentang lagi & sementara ia berada jongkok di depanku, maka vaginanya yg merah basah hingga ke bulu-bulunya kelihatan terang di depan mataku. Saya berikan kode biar Ningsih mendekatkan vaginanya ke mukaku. Sesaat setelah itu vaginanya telah ditindihkan di mulutku & kulumat habis cairan asin bercampur manis yg ada di selangkangan & mulut vagina & bulunya. Kujilati habis & kutelan dalam-dalam. Ningsih melenguh keasyikan sambil menggoyangkan pinggulnya ke atas ke bawah & membenamkan vaginanya ke mukaku. 

"Paahh..., ooghh, Paahh..., nikmaatt, yaangg... teruusss, aduuuhh..., ooggghh, eemmhh, gilaa..., emmhh", sejak mulai ramai lagi beliau dgn lenguhannya yg makin menambah semangatku buat konsisten melumat, menjilat, menggigit-gigit mungil kemaluan & klitorisnya, lidahku tetap menggapai-gapai ke dalam kemaluannya & sesekali menjilat lubang pantatnya, maka dirinya menggeliat & melenguh keenakan. Lenguhan Ningsih seandainya sedang senggama itu tidak dapat kulupakan hingga sekarang ini. 

Ningsihku merupakan isteriku yg sesungguhnya, walaupun dengan cara resmi tak bakal dilakukan dikarenakan kondisi kami masing-masing. Terkadang kami bingung apakah cinta kasih kami bakal konsisten tidak dengan akhir hingga takdir memisahkan kami berdua? Ningsih kembali kuminta celentang, sebab telah kebiasaanku jikalau saya klimaks mesti menyaksikan wajahnya & mendengar lenguhannya di depan mataku, & rasanya seluruhnya perasaan cintaku & spermaku tumpah ruah di dalam vaginanya jikalau saya ejakulasi sambil berada diatas tubuhnya yg mulus montok, terkadang sambil meremah buah dadanya yg putih padat. 

Kumasukkan lagi cepat penisku yg sekeras besi & berwarna coklat mengkilap itu kelubang vaginanya, "Blleeeessss. " Saya telah tidak tahan lagi menahan gumpalan spermaku di ujung penisku. Kugenjot penisku ke luar masuk vaginanya hingga ke ujung batang penisku, maka rambut kemaluan kami terasa bergesekan menciptakan makin geli & nikmat rasanya. Kuangkat kaki kanan Ningsih ke atas, maka saya makin enteng & bernafsu memaju mundurkan pinggulku & penisku, Ningsih meringis & melenguh keenakan. "Paahh... teruuss Paahh... oogghh, penis Papah eaakk... ooggghh, eeemmhh... emmhh... aduuuhh." Keringat kami makin bercucuran membasahi sprei, musim bodoh telah bayar mahal ini. Saya makin bernafsu menyodok & menarik batang penisku dari vagina Ningsih yg makin licin tetapi konsisten sempit seperti perawan. 

"Oooggghh... Maahh... ooggghh... Maahh... ikut goyang dong Sayaang..., oooghh... Papaahh maauu keluuuaarr..." saya makin gila saja dibuatnya, keringat makin bercucuran, nikmat & nikmat sekali tiap-tiap bersetubuh dgn Ningsihku sayang. Air maniku rasanya tinggal menunggu komando saja buat disemprotkan habis-habisan kelubang vagina Ningsih. "Paahh, aduuuhh, bareng yuuu.. Paahh... Mamah mmoo keluaarr lagi", Ningsih minta saya menindihnya & menciumnya. Serentak kutimpa ia dari atas sambil melumat mulut, bibir & lidahnya. "Ooogghh... yuu... baraeeng.. Paahh... aiiaaogghh... aduhh.. yuu Maahh.. Paahh..." tubuh kami saling meregang, berpelukan erat seakan tidak ingin lepas lagi. Air maniku kusemprotkan dalam-dalam ke lubang vagina Ningsih, rasanya nggak ada lagi tersisa. Kami terkulai lemas dalam pelukan hangat & puas sekali. Sesekali penisku kutusukan ke dalam vaginanya, Ningsih menggelinjang geli & melenguh "Paahh... udaahh... Mamahh geli..." matanya terpejam puas. Kuciumi dirinya, kubersihkan lagi vaginanya bersama jilatan lidah & mulutku, ketimbang gunakan handuk. Vaginanya terus harum, manis & wangi laksana melati. 

Sepulang dari Singapore, saya & Ningsih masihlah senantiasa berjumpa di sekian banyak motel di Jakarta & seputar Botabek. Saya seakan tak rela melepas kekasihku utk dikawinkan bersama lelaki lain. Namun benar-benar tak ada jalan lain, dikarenakan walau Ningsih sudah menyebutkan keikhlasannya buat jadi isteri keduaku, tetapi saya pun amat sangat cinta keluarga terutama anak-anakku yg masihlah perlu perhatian. Ningsih amat maklum hal tersebut, tapi ia pula tak sanggup menolak kemauan orangtuanya buat serta-merta menikah mengingat hal tersebut bagi seseorang perempuan yaitu sesuatu yg mesti memiliki kepastian lantaran usianya yg makin meningkat. Saat itu Ningsih telah berumur nyaris 26 thn & buat perempuan seusia itu patut utk serentak berumah tangga. 

Tidak Dengan terasa hri pernikahan Ningsih telah tinggal tersisa satu bln lagi, bahkan undangan pesta pernikahan telah sejak mulai dicetak, & dirinya MembeNingsihhukan saya bahwa resepsi pernikahannya bakal diselenggarakan di Balai Kartini. Hatiku makin merasa kesepian, dari hri ke hri saya makin sentimentil & tidak jarang marah-marah termasuk juga terhadap Ningsih. Saya demikian tidak rela & rasanya merasa cemburu & dikalahkan oleh seseorang cowok lain calon suami Ningsih yg sebenarnya tak ia cintai. Namun itulah suatu kenyataan pahit yg mesti kutelan. Itulah etika ketimuran kita, tradisi leluhur & moyang kita. Mungkin bila saya & Ningsih hidup di satu buah negeri berkebudayaan barat, elemen ini tak bakalan berlangsung, lantaran Ningsih sanggup tentukan pilihannya sendiri buat hidup bahagia bersamaku di satu buah flat tidak dengan bisik-bisik tetangga & handai-taulan di kira kira kita. 

Tidak Dengan terasa serta saya telah menjalin cinta & berhubungan intim dgn Ningsih nyaris empat thn lamanya, seperti sama seperti suami isteri tidak dengan seseorang juga yg mengetahui & hebatnya Ningsih tak hingga mengandung lantaran kami memanfaatkan kiat kalender yg ketat maka kami bersenggama kalau Ningsih dalam kondisi tak subur. 

Terhadap satu buah sore, Ningsih meneleponku minta diantarkan buat mengukur gaun pengantinnya di suatu rumah mode langganannya di kawasan Slipi. Kebetulan saya sedang agak rindu kepada ia. Kujemput beliau di satu buah toko di Blok Meter seterusnya kami meluncur ke arah Semanggi buat menuju ke Slipi. Di mobil dirinya agak diam, tak seperti rata rata. 
"Ning, kok tumben nggak bersuara", kataku memecah hening. 
Beliau menatap mukaku perlahan, masihlah tidak dengan senyum. Air matanya nampak samar di pelupuk matanya. 
"Mah, mengapa sayang? kok nampaknya bersedih", kataku sekali lagi. 
Beliau masihlah menunduk & air matanya sejak mulai meluncur menetes di tanganku yg sedang mengelus mukanya. 
"Bertambah dekat hri pernikahanku, saya bertambah sedih Pah", ujarnya. 
"Mamah membayangkan tengah malam pengantin yg sama sekali tak Mamah harapkan berjalan dgn lelaki lain. Sayang sekali anda telah milik orang lain. Mengapa kita baru dipertemukan sekarang ini?" Ningsih berceloteh setengah bergumam. Saya merasa iba, sekaligus pula mengasihani diriku yg tak bisa berbuat tidak sedikit utk membahagiakannya.

Kugenggam tangannya erat-erat seolah tak akan terlepaskan. Tidak Dengan terasa, mobilku telah memasuki pekarangan rumah mode yg ditunjukan Ningsih. Nyaris setengah jam saya menunggu di mobil sambil tiduran, mesin & pendingin mobilku sengaja tidak kumatikan. Laser disk bersama lagu "Love will lead you back" mengalun sayup menambah suasana sendu yg menyelimuti perasaanku. Saya dikejutkan Ningsih yg masuk mobil & membanting pintunya. Sesudah berada dijalan raya kutanya beliau ingin ke mana lagi & dirinya menjawab terserahku. Kuarahkan mobilku kembali ke jembatan Semanggi & belok kiri ke jalan Jenderal Sudirman & masuk ke Hotel Sahid. Sementara saya mengurus check-in di Reception Desk, Ningsih menungguku di lobby hotel. Setelah Itu kami naik lift menuju kamar hotel di lantai dua. 

"Pah, Mamah serahkan segalanya untukmu, Mamah khawatir sebentar lagi Mamah dipingit, nggak boleh ke luar sendirian lagi, maklum kebiasaan kuno kejawen masihlah ketat." Tidak Dengan malu-malu lagi dikarenakan kami benar-benar telah seperti suami isteri, ia terhubung satu persatu baju yg melekat di badannya maka kemontokan tubuhnya yg tidak sanggup kulupakan nampak terang di hadapanku. Tidak Dengan malu-malu juga dirinya sejak mulai memelorotkan celana panjang hingga celana dalamku, maka batang penisku yg tetap tiduran terbangun. Tidak Dengan menungguku terhubung pakaian & kaus singlet, Ningsih telah membenamkan batang penisku ke mulutnya & melumatnya dalam-dalam. Saya mulai sejak merasakan kenikmatan yg gemilang & batang penisku mulai sejak mengembang akbar & keras seperti besi. 

"Ogghh... Maahh..., isep tetap yaang oooghh, aduuuuhh... gelli", saya sejak mulai melenguh nikmat & Ningsih makin segera mengulum penisku bersama memaju-mundurkan mulutnya, penisku makin terasa menegang & aliran darah terasa panas di batang penisku & Ningsih makin semangat melumat habis batang penisku. "Oggghh, Paahh, enaakkk asiiin.. Paahh." Wah, batang penisku semakin terasa senut-senut & tegang sekali rasanya cairan spermaku telah berkumpul di ujung kepala penisku yg makin merah mengkilat dikulum habis Ningsih. Saya minta Ningsih menghentikan hisapannya dahulu, jika tak rasanya spermaku telah ingin muncrat di mulutnya. 

"Ooogghh, Maahh, telah dahulu doong, Papaahh moo... keluaar!" Ningsih menuruti eranganku & beranjak rebah & telentang di area tidur. Saya membawa nafas dalam-dalam buat menahan muncratnya spermaku. Saya ikut naik ke area tidur & kutenggelamkan mukaku ke tengah selangkangannya yg mulus putih tak ada cela sesuai di depan kemaluannya yg merekah merah. Kujulurkan lidahku utk seterusnya bersama meliuk-liuk memainkan kelentitnya, turun ke bawah menjilat sekilas lubang pantatnya. Ningsih melenguh kegelian & sejak mulai menaik-turunkan pantatnya yg putih & gempal. 

Kutarik ke atas lidahku & kujilat langit-langit vaginanya yg mulai sejak basah & terasa manis & asin. Kutegangkan lidahku supaya terasa seperti penis, tetap kutekan lebih dalam menyapu langit-langit vagina Ningsih. Ningsih makin memundur-majukan pinggulnya maka lidahku menembus lubang vaginanya makin dalam. Saya sebenarnya ingat bahwa hasil operasi selaput daranya tempo hri di Singapore sanggup jebol lagi, namun saya tidak peduli jika kenikmatan bersenggama dgn Ningsih sudah memuncak ke ubun-ubunku. "Paahh... ooghh... wooowww... ooghh.. paahh, konsisten paahh... enaakkk... paahh lidahnya kayaak kontoooll... " Goyangan pinggul Ningsih makin menggila, saya juga tambah semangat membabi buta memainkan lidah & mulutku melumat habis vagina & klitorisnya hingga cairan Ningsih makin tidak sedikit mengalir. Kuhisap & kutelan habis cairan vagina Ningsih yg asin manis itu maka lubang vaginanya senantiasa bersih kemerahan. Ningsih konsisten menyodok-nyodokkan vaginanya ke mukaku maka lidahku terbenam makin dalam di lubang vaginanya, hingga sejak mulai terasa pegal rasanya lidahku konsisten kutegangkan seperti penis. "Paahh... telah naik sayaang, Mamah telah nggak tahan, masukkan penisnya sayang." Ningsih menarik tanganku ke atas agar saya serentak menaikkan badanku diatas badannya. 

Penisku benar-benar telah terasa panas & tegang sekali. Ningsih tidak sabar memegang penisku & menuntunnya ke lubang vaginanya yg telah basah sebab lendir kemaluan bercampur ludahku. Sehingga "bleeess", "Ogghh... Paahh... tekan tetap sayaang, Mamah udaahh rinduu... oogghh emmgghh... Paah... konsisten goyaag sayaang.... ooghh.." Pantat Ningsih mulai sejak bergerak naik turun dgn liar & penisku sebentar masuk sebentar ke luar dari lubang vaginanya yg menyedot-nyedot lagi. Kunaikkan kaki kanannya & dgn posisi setengah miring & posisiku setengan duduk saya sodok vagina Ningsih dari belakang. Saya makin bernafsu bila menyaksikan pantat & pinggul Ningsih yg putih. Penisku makin ganas & tegang menyodok mantap vaginanya dari belakang. 

Ningsih membalikkan tubuhnya maka menungging membelakangiku & penisku tidak kucabut dari vaginanya. "Paahh.. teruuss dooong, Mamaah nikmaa... ogghh... teruuusss... sodoook sayaang... ogghh... Paahh.... aaoggghh... uuuggghh..." Pantatnya makin menggila mundur maju & saya juga makin menggila menyodokkan penisku hingga rasanya ingin patah. Memang Lah tiap-tiap senggama sama Ningsih rasanya habis-habisan. Kutumpahkan seluruhnya kekuatan & keperkasaanku buat membahagiakan Ningsihku. Beliau juga begitu, ga ada yg tersisakan jika kami bersenggama. Mesti habis-habisan biar puas. Keringat kami membanjiri sprei hotel seperti habis mandi. 

"Mmaahh... oooghh, teruuusss goyaang... oooggghh.. Maahh... Papaahh mooo keluaarr... gila Maahh... vaginanyaa.. . oooghh... nikmaat... sekalii..." Saya sejak mulai ribut & Ningsih melenguh makin panjang. Mungkin Saja tamu kamar sebelah mendengar lengkingan & lenguhan kami. 

Periode bodoh! "Pahh... emmghh... oogghh... Paapaahh... adduuuhh.. Paahh... adduuhh... Mamaahh... mmooo kelluuaarr.. . emmggg... addduhh... Paahh aduuhh... Paahh... adduuhh", Kugenjot konsisten penisku ke luar masuk, vagina Ningsih yg makin banjir bersama cairan vaginanya, konsisten kugenjot penisku hingga pegel saya tidak peduli. Keringat kami konsisten membanjiri sprei. 

Kuminta Ningsih telentang kembali dikarenakan dengkulku mulai sejak lemas. Dirinya tersenyum sambil konsisten memejamkan matanya. Oh, cantiknya bidadariku, rasanya mau kukeluarkan seluruhnya mengisi penisku untuknya. Ningsih baru sadar bahwa hasil operasi selaput daranya bisa jadi jebol lagi. Ningsih bilang musim bodoh, yg mutlak semuanya sudah diberikan utk Papah. Agar saja suaminya curiga atau beram atau bahkan seandainya ingin cerai sekalipun jika tahu dirinya nggak perawan lagi. Kali ini kami nggak menunggu disaat kala Ningsih sedang tak subur, lantaran Ningsih mau mengandung anakku & orang tak ingin curiga dikarenakan Ningsih bakal punyai suami. Memang Lah kasihan nasib suami Ningsih kelak, tetapi bukan salah kami lantaran beliau merebut cinta kami, ya kan ? 

"Cepat pah masukan lagi ach... janganlah mikirin orang lain!" Tuh kan betapa ia nggak ambil peduli berkaitan hri pernikahannya & calon suaminya, karena bagi dirinya akulah suami sesungguhnya dalam hati sanubarinya. Bleess..., "Ooogghh... Paahh, enaak... Paahh... aaoogghh.. uuhhgg.. uuughh... genjot konsisten Paah", Saya tekan penisku sekuat-kuatnya hingga tembus semuanya ke lubang paling dalam vaginanya hingga terasa mentok. "Ooogghh... mmaahh... nikmaattt... istrikuu... sayaangg... oooggghh... aagghh... eemmgghh..." saya setengah berdiri lagi dgn tumpuan ke dua dengkulku & kurenggangkan ke-2 kaki Ningsih, kusodokkan tetap penisku ke luar masuk vaginanya, bleeesss... sreeett... blleeess... sreeet..., vaginanya memunculkan nada yg makin memancing gairah kami berdua. Ningsih memejamkan & mengigit-gigit bibirnya & mencakar-cakar punggung & tanganku kala sejak mulai meregang. 

"Ooooggghh.. . Paappaahh... emmggg... ooggghh... aduuuhh... Mamaah moo keeluuuuarr. . oooghh.. Paahh... teruuuss... saayyaang, keluuaarriiinn barreenng oogghh", 
"Hayyyoo... Maahh... oogghh... hayoo... baarr... ooghh... reenng... Maahh... ooooghh", teriakanku tidak kalah serunya. Kami menggelepar, meregang, mengejang bersama-sama, serasa nafasku ingin copot & Ningsih melenguh panjang sambil merasakan cairan air maniku tertumpah ruah di lubang kemaluannya, terasa nikmat & hangat jelasnya. Kebanyakan sehabis merasakan klimaks yg teramat dahsyat Ningsih senantiasa memukul & mencubit sayang badanku, tetap kelelahan ingin tidur maka terbaring lunglai bersama keringat bercucuran. Saya senantiasa memeluk & menciumi keningnya, hidungnya, mulutnya, rambutnya hingga ke pantatnya, rata-rata beliau menggelinjang & marah-marah lantaran geli. Seandainya Ningsih telah terpuaskan & tertidur, saya rasanya lelaki yg teramat berbahagia di dunia ini. Sekian dahulu (Dapat kusambung sesudah Ningsih kawin seminggu, tambah seru deh!). 
Sudah seminggu Ningsih menikah dgn cowok pilihan orangtuanya. Resepsi pernikahannya di Balai Kartini lumayan meriah, & saya datang dgn isteriku buat mengatakan selamat. Kala saya menyalaminya, dirinya tertegun & terasa agak kikuk & serba salah, saya juga merasakan factor yg sama. "Terima kasih ya Pak", menurutnya nyaris tidak terdengar. Di hatiku berkecamuk seribu macam pikiran, tetapi kuusahakan utk terus wajar. Ningsihku demikian kece & anggun dgn baju pengantinnya. Saya membayangkan bahwa sebentar lagi Ningsih kekasihku, isteriku, yg sekian banyak th sudah memadu cinta denganku dapat jadi isteri orang. 

Meski kutahu bahwa ia masihlah mencintaiku, tetapi dengan cara resmi dirinya bakal jadi isteri orang lain, pasti tak mau sebebas dahulu disaat beliau tetap single. Sebentar lagi Ningsih bakal tidur berdua-duaan dgn lelaki lain, bisa saja buat selamanya, sebab saya juga tidak mau beliau jadi janda & jikalau Ningsih jadi janda pasti bakal jadi gunjingan orang. Tak, saya tidak rela Ningsihku jadi gunjingan orang. Sekilas saya berpikir utk mengakhiri saja hubunganku dgn Ningsih, dikarenakan dirinya sudah jadi isteri orang, namun apakah dapat semudah itu saya melupakannya? Dunia rasanya sepi & kejam, & saya melangkah gontai meninggalkan pesta perkawinannya yg tetap penuh tawa & canda kawan-kawan & keluarganya. 

Sekian Banyak hri sesudah pernikahannya saya membenamkan diri bersama pekerjaanku, siang & tengah malam kusibukkan diriku bersama tugas & mengurus anak-anaku. Saya tidak mau membayangkan, & benar-benar tidak mampu membayangkan sedang apa Ningsih sekian banyak hri sesudah pernikahannya. Saya cemburu, geram, masgul, gundah bila membayangkan dia sedang bersenang-senang dgn suaminya yg pastinya telah tidak sabar mau menikmati kemontokan & kemulusan badan Ningsih, yg telah resmi menjadi isterinya. Saya membayangkan Ningsih telanjang bulat dgn suaminya, manja, bersenggama bebas tidak dengan takut oleh siapapun & melenguh mesra seperti kala bersenggama denganku. 

Tiba-tiba saya amat sangat benci padanya, saya punya anggapan Ningsih nggak setia padaku, Ningsih sudah mengkhianati cintaku, buktinya dirinya ingin saja digilir oleh lelaki lain. Apakah itu yg namanya cinta & kesetiaan? Saya bertekad utk menjauhinya sejak mulai waktu ini, & saya tak ingin menerima teleponnya. Ningsih memang lah berjanji dapat meneleponku paling lambat satu pekan sesudah beliau menikah & sebelum ikut suaminya pindah ke Bandung. 

Tak! saya tidak akan menerimanya jikalau beliau meneleponku, agar beliau tahu rasa, saya tidak ingin seken orang lain. Benar saja, kepada hri kelima sesudah kawin dirinya meneleponku. 
"Pak, ada telepon", kata sekretarisku yg baru, pengganti Ningsih. 
Anehnya, walau dirinya berparas cukup, saya tidak tertarik sama sekali dgn sekretaris baruku itu. Saya benar-benar bukan jenis "hidung belang" yg sekedar ingin iseng bercumbu dgn wanita. Saya cuma jatuh hati dua kali seumur hidupku, terhadap isteriku & terhadap Ningsih. 
"Pak, kok melamun, ada telpon dari Ibu Ningsih, menurutnya seken sekretaris bapak", sekretaris baruku kembali mengagetkan lamunanku. 
"Ooh.. ya... ya.. sebentar Reni..., emh.. dari siapa? Ningsih? bilang saja Bpk sedang keluar kantor ya!" saya mengajari dirinya bohong. 
"Lho, Pak, mengapa? kan kasihan Pak, jelasnya mutlak sekali, & besok Ibu Ningsih ingin pindah ke Bandung" 
Reni, sekretaris baruku itu mulai sejak mendesakku buat menerima saja telephone Ningsih itu. Saya sejenak merasa bingung, saya rasanya masihlah benci namun pula teramat rindu sama Ningsih, lebih-lebih kata Reni besok dapat menjadi pindah mengikuti suaminya yg bekerja di Bandung.

Sesudah berfikir sejenak... "OK, Reni, sambungkan ke sini!" & saya agak panik buat kembali bicara dgn Ningsih, buat kembali mendengar suaranya, Ningsih yg waktu ini telah jadi isteri orang lain. 
"Hallooo..., siapa nich?", kataku agak enggan. 
"Papah, ini Ningsih Pah, Papah kok gitu sih?" jawab Ningsih di ujung sana. 
"Oh, Nyonya Prayogo, aku kira Ningsih Prameswara kawanku", kataku menggoda. 
"Nggak lucu ah..., Mamah saat ini bertanya serius, apa Papah ingin nemui Mamah nggak sebelum besok Mamah pindah ke Bandung?", jawabnya lagi setengah mengintimidasi. Saya bingung pula ditanya demikian, lantaran jauh di dalam hatiku sebenarnya saya rindu berat sama Ningsih, namun kebencian & kekesalan masihlah menempel erat di benakku. 

Sekian Banyak jenak, saya nggak dapat menjawab hingga Ningsih nyerocos lagi. 
"Mamah ngerti, Papah tetap kesal & benci sama Mamah, namun anda kan telah setuju bila Mamah terpaksa mesti kawin, demi kebaikan pertalian kita & demi menjaga nama baikmu pun. Papah, dengar! Mamah telah seminggu nggak menstruasi lagi hingga sekarang ini. Ingat pertalian kita di Hotel Sahid terakhir kali? Sudahlah, kelak Mamah CeNingsihkan lebih komplit, kini ingin nggak jemput Mamah di toko biasa di Blok Meter? Soalnya mumpung si Yudi pulang agak larut malam" Nama suaminya benar-benar Yudi Prayogo & cuma selisih dua th bersama Ningsih, menurutnya sih ketemu di kursus Inggris LIA. 

Hatiku mulai sejak melunak mendengar pengakuannya & juga merta saya menyetujui utk menjemputnya di Blok Meter. Saya memarkir mobilku di ruang parkir yg agak memojok & sepi, maklum kami mesti makin berhati-hati, sebab Ningsih telah jadi isteri orang. Ningsih langsung hafal menonton mobilku & sesudah Ningsih duduk di sampingku, langsung kukebut lagi ke luar Blok Meter menuju ke utara melintasi Sisingamangaraja, Sudirman, naik jembatan Semanggi konsisten memutar ke jalan Jenderal Subroto & bersama segera masuk ke halaman parkir Hotel Kartika Chandra. Ningsih nampak lebih jelita, sedikit gemuk & tambah bersih & putih mukanya. Rambut & bulu-bulu halus di kira kira jidatnya tampak hilang, mungkin saja sebab dikerok oleh perias pengantinnya. 

Beliau mengenakan celana panjang merah & T-Shirt putih kembang-kembang ditutupi blazer warna hitam. Tampak cocok dgn kulitnya yg putih bersih. Tidak Sedikit yg nyangka beliau keturunan Tionghoa, padahal Jatul. Tahu jatul? Jatul itu "Jowo Tenan" atau "Jawa Tulen". Ibunya dari Purwokerto & bapaknya dari Surakarta , jelasnya sih masihlah kerabat Kesultanan Surakarta, tetap trah serentak Raja Paku Bowono. Sesudah check-in sebentar, saya telah berdua-dua bersama Ningsih di kamar hotel, & buat mula-mula kalinya saya berduaan dgn isteri orang. Ada perasaan berdosa menyelinap di hatiku. Namun semuanya jadi hilang sebab betapa besar nya cintaku kepada Ningsih. Pun sebaliknya, kalau Ningsih tidak mencintaiku, mana mungkin saja dirinya BeReni berjumpa dgn lelaki lain padahal ia baru kawin lima hri dulu? 

"Papah, Ningsih sedang mengandung janin anakmu, rata rata tanggal lima pekan dulu Mamah menstruasi nyatanya nggak ke luar hingga sekarang", Ningsih melanjutkan keterangannya tadi di telephone, & saya makin cinta & sayang rasanya. Namun masih saja mau menggodanya & mengetes cintanya padaku. 
"Oh, ya, nyaris lupa, bagaimana dong bln madunya tempo hari, CeNingsihin dong Ning! tentu seru & rame bersama lenguhan. & apa suamimu nggak ribut bertanya perawanmu tajir Farid Hardja?" Ningsih mendelikkan matanya & mencubit pahaku keras sekali. 
"Percaya atau tak terserah Papah, yg tentu nggak ada lenguhan, nggak ada goyangan, persis tajir gedebong pisang. Si Yudi benar-benar pernah marah-marah dikarenakan barangkali Mamah nyata-nyatanya demikian dingin & nggak gairah. Namun benar-benar nggak mampu dipaksakan. Mamah cuma bergairah jika bersenggama bersama Papah. Ia nggak nanya tuh, mengapa nggak ada darah perawan Mamah di sprei, ah.. telah.. telah! nggak usah bertanya gitu-gituan lagi. Kelak malah berantem konsisten. Pokoknya Mamah sayaang benar sama Papah, nggak ada duanya deh". 

Seperti mampu ia sejak mulai mencopoti pakaianku satu persatu, hingga CD-ku dirinya pelorotin serta. Demikian dibuka CD-ku, penisku serentak bergerak liar & setengah tegang demikian tersentuh tangan halus Ningsih. Tidak buang kala lama, Ningsih melemparkan seluruhnya pakaiannya ke lantai karpet hingga nampak bodinya yg seksi, putih mulus bersama puting susu yg makin ranum. Barangkali pengaruh dari kehamilannya walaupun baru sekian banyak hri mengandung anakku. Penisku yg masihlah setengah tertidur serentak dikulumnya ke dalam mulutnya & dihisapnya dalam-dalam, padahal saya masihlah berdiri seperti patung bersama bersandar ke tembok. Bersama ganas beliau menghisap, menggigit & menyedot penisku dalam-dalam hingga penisku mentok ke langit-langit mulutnya. Tidak lama penisku cepat tegang & memerah & mengkilap bercampur ludahnya. 

"Ooooggghh.. . Maahh.... tetap Maahh... jilaat.... ooogghh..." Saya mulai sejak terangsang & kenikmatan tiap-tiap penisku dihisapnya. Ningsih benar-benar senang sekali menjilat & menghisap penisku, namun diwaktu kutanya apakah beliau pun menghisap penis suaminya, beliau bilang amit-amit, nggak nafsu tuturnya. Mulut Ningsih pindah menghisap & menjilat penisku, dirinya serta suka menggigit-gigit dua bakso penisku, hingga saya kesakitan campur geli & nikmat bukan kepalang. "Ooooghh... Maahh... jangan sampai digigit, Papah sakiiittt". Saya minta Ningsih mogok dahulu mengulum batang penisku, saya pun telah rindu utk menjilat vagina & klitorisnya. Kuminta Ningsih tiduran dipinggir lokasi tidur empuk itu dgn kaki terjuntai ke bawah, bersama demikian saya sanggup duduk di tengah-tengah selangkangannya. Vagina & klitorisnya nampak terang bila demikian. Oh, demikian indah dgn warna merah jambu klitoris & lubang vaginanya nampak terang di hadapan mukaku. Kujilat dengkul & pahanya, tetap merayap kujilati selangkangannya yg mulus, sesekali kujilatkan lidahku ke lubang pantat, klitoris & lubang vaginanya, Ningsih melenguh-lenguh macet. "Oooghh, Papaahh... eeemghh, aduuuhh..., teruuuss... Paahh... oooghh... enaakkk." Jikalau Ningsih telah sejak mulai melenguh demikian saya makin bernafsu utk konsisten menjilat, mengigit & menyedot-nyedot klitoris & lubang vaginanya sambil menyedot air maninya yg mulai sejak meleleh ke luar & lubang vaginanya. Oh, nikmat... manis & sedikit asin, tajir kuah asinan Bogor . Kukeraskan lidahku agar makin tegang & kutusukkan ke dalam lubang vaginanya, Ningsih makin melenguh keenakan, sebab bisa saja lidahku terasa seperti penis menyodok-nyodok makin ke dalam lubang vaginanya. Cairan vaginanya makin tidak sedikit ke luar & kuhisap & kutelan bersama nikmat. Kadang-kadang rambut kemaluan Ningsih ada yg putus & ikut termakan. "Paahh.... ooooghh.... Paahh..., enaakkk, teruuuusss.... Paahh... ooooggghh... aduuuhh", Ningsih makin ramai, kemungkinan suaranya terdengar tamu disebelah atau room-boy yg sedang melalui. Kujilatkan lidahku ke lubang pantatnya berkali-kali Ningsih bergelinjang kegelian. "Papaahh... geliiii..." penisku menggesek pahanya yg mulus maka makin tegang. "Paahh... penisnya geli tuch di paha Mamah, udahan lalu ngisepnya sayang...., kesini deh, cium Mamah & masukin penisnya." 

Kuhentikan jilatan lidahku, benar-benar telah mulai sejak pegal pun menegangkan lidahku nyaris seperempat jam. Kugeserkan badanku ke atas, sejajar dgn badan Ningsih & sambil kulumat mulutnya dalam-dalam kugesekan penisku ke vaginanya yg basah, oh... betapa nikmatnya. Kukulum & kugigit lidahnya. Ningsih MenjeNing macet, selanjutnya kujulurkan serta lidahku & beliau balas menggigit lidahku bersama bernafsu. Saya gantian teriak, hingga ke luar sedikit air mata. Untung kenang-kenangan apabila Ningsih di Bandung tuturnya. Kujilati kupingnya, jidatnya, hidungnya, matanya hingga Ningsih menggelinjang- gelinjang diwaktu kujilati & kugigit kupingnya. "Tuuuuhh.. Paah perhatikan, hingga merinding, "katanya manja. "Paahh, masukin penisnya Paahh, Mamah telah rinduuu." 

Ningsih melenguh manja. Ningsih merenggangkan selangkangannya utk terhubung lubang vaginanya lebih lebar lagi. Penisku yg tambah keras nyasar-nyasar di lubang vaginanya sesudah menembus bulu-bulu vaginanya yg mulai sejak basah & "Bleesssss.. ." Ningsih berteriak keenakan sambil menggigit bibirku. "Paahh..., ooogghh..., pelaan pelaannn... doongg." Matanya terpejam, nafasnya yg harum & bau mulutnya yg wangi masuk seluruhnya terhirup oleh hidungku. Kutarik & kutekan penisku makin kuat & tidak jarang, keringatku makin bercucuran, kemungkinan berkat bir hitam cap kucing yg kuminum sebelum main-main bersama Ningsih tadi. Ningsih serta makin mengencangkan goyangan pinggul & pantatnya turun naik hingga saya merasakan kepala penisku mentok di ujung lubang vaginanya. "Paappaahh.. .. ooogghh... teruuusss, cumbu Mamaah Paahh..., Mamaahh cintaa, Mamaahh.. sayyy... oooghh.. aduuhh... aanggg." Ningsih makin ramai mengerang & melenguh tidak peduli suaranya bakal didengar orang. Kuminta Ningsih menungging sesudah kucabut penisku. Ningsih menurut & wow! saya senantiasa makin bernafsu jika menyaksikan pantat & pinggul Ningsih yg mulus & seksi. Sambil sesudah jongkok, saya menyodokan penisku dari belakang sesudah terhubung lubang vaginanya sedikit bersama tanganku &, "Bleeeeezzzz" , Ningsih berteriak keenakan. "aaggghh, oooghh... Paahh... konsisten genjot Paahh... wooowww... enaakkk Paahh..." saya makin mengencangkan sodokan penisku. Ningsih melenguh, merintih & teriak-teriak mungil sementara itu keringat kami makin bercucuran membasahi seprei. Saya merasakan kenikmatan yg menakjubkan tiap-tiap mempraktekkan berhubungan tubuh dgn gaya "doggy style" maka spermaku mulai sejak meleleh ke luar, makin meramaikan bunyi gesekan penisku dgn vagina Ningsih. Ningsih makin menunggingkan pantatnya maka penisku makin amblas di dalam vaginanya. Rasanya air maniku telah mengumpul di kepala penisku menunggu dimuntahkan habis. "Maahh... oooghh.... aduuuhh... Maahh, vaginanya enaakk..., punyai Papah yaa sayaang...." Ningsih menjawab sambil merintih "Iyaa... sayaangg, semuanya punyai Papaahh." Kusodokkan penisku makin dalam. "Maahh.... adddduuhh... . Papaahh... moooo keluaarr! cabut lalu ya Maahh..." Ningsih setuju & serta-merta telentang kembali. Saya langsung menggumulinya dari atas badannya, kulumat pentil buah dadanya. Ningsih kenikmatan & minta penisku cepat dimasukan kembali ke vaginanya. Ia minta saya merasakan kenikmatan bersenggama dengannya, hingga kelak berjumpa lagi di Bandung dgn segala kiat. Kumasukan kembali penisku ke vaginanya yg makin basah dgn cairan sperma kami yg telah bercampur satu.

"Bleeessszzz, crroockkk... chhooozkk... breesszz... crrrockkk.... bunyinya makin gaduh. Ningsih makin membabi buta menggoyang & menaik-turunkan pinggulnya & saya pun begitu. Kutekan & kucabut penisku yg panas & keras ke lubang vaginanya. Mau rasanya kutumpahkan seluruh sperma & spermaku ke lubang vagina & rahim Ningsih biar anakku makin sehat dgn penambahan vitamin & mineral dari sperma bapaknya. Agar kegantengan & kepintarannya pula turun ke anakku yg ada di dalam rahim Ningsih. Tiba-tiba kami merasakan kenikmatan yg amat sangat luar biasa, kami meregang & melenguh bersama-sama merasakan sorga dunia yg ga ada taranya, meregang, meremas & memeluk erat-erat dua tubuh anak manusia yg saling mencinta & seakan tidak bisa terpisahkan. Ningsih mengejang badannya & menggigit bibir & lidahku, pinggulnya terangkat sambil berteriak. "Papaahh.... oooghh... Mamaah... ooghh, keluaar... sayaangg", sambil mencubit & mencakar punggungku. 
Mendengar lenguhan & teriakan ejakulasi Ningsih, saya pula sejak mulai tidak tahan menahan desakan air maniku di kepala penisku & sambil menekan dalam-dalam penisku di vaginanya saya berteriak sambil mengejang, kugigit lidahnya, "Maahh... oooggghh... Papaahh... jugaa..... keeelluuuaarrr.... oooghh.... sayaanggg... . nikmaattt." Kami tertidur sejenak sambil berpelukan dgn mesra & tersenyum puas, kala telah menunjukkan jam delapan melalui lima menit, berarti kami main tatkala nyaris dua jam lamanya. Oh, betapa nikmat & puasnya. Saya memeluk & menciumi Ningsih erat-erat seolah tak mau berpisah dgn kekasihku & isteriku tercinta, sebab besok dirinya telah bakal pindah ke Bandung. Ningsih berjanji utk MembeNingsihhukan No. telephone rumahnya di Bandung & saya diminta buat datang paling tak seminggu sekali. 

Telah satu bln berlalu, sejak pertemuanku terakhir dgn Ningsih di Jakarta. Saya terkadang amat sangat rindu dengannya, namun kutahan perasaanku dgn menyibukkan diriku terhadap tugas yg makin menumpuk sejak saya mempimpin cabang Slipi. Maklum, para pebisnis nasabah bank di mana saya bekerja makin tidak sedikit saja, aspek ini dikarenakan kesuksesan marketing-ku. Saya sengaja bekerja all-out siang tengah malam, dgn menjamu langgananku sambil makan tengah malam & karaoke. Saya mau melupakan Ningsihku yg waktu ini telah menjadi isteri orang, namun bayang-bayang kemesraan tatkala sekian banyak th dengannya seperti suami isteri tidak gampang rupanya utk dilupakan demikian saja. Sekretarisku yg baru benar-benar kece, lebih jejaka & menarik, namun anehnya saya sama sekali tidak tertarik dengannya, bisa jadi benar-benar saya bukan jenis lelaki "play-boy" yg enteng gonta-ganti pasangan. Cintaku telah direbut oleh Ningsih tidak dengan peduli bahwa dirinya telah jadi isteri orang. Tetapi saya tidak menyesalkan jumpa dgn Ningsih, saya terus mencintainya bersama sepenuh hati. 

Oh, rupanya saya melamun terlampaui lama, maka saya merasa malu kala sekretarisku Reni masuk mengambil setumpuk dokumen. 

"Pak, kok melamun?" sapanya ramah, sambil tersenyum manja. 
"Ah, oohh... eng.. nggak.. kok", kataku tergagap. 

"Pak, dokumen-dokumen ini butuh langsung ditanda-tangani Bpk, lantaran kelak siang Pak Yusuf Pramono bakal mengambilnya" , kata Reni lagi. 

"Okay, tinggalkan saja dahulu, kelak aku panggil lagi anda sesudah kutandatangani" , kataku datar. Reni menyimpan sekian banyak map "feasability study" utk sekian banyak proyek pabrik konveksi yg membawa credit dari bank di mana saya bekerja. Dirinya ke luar ruanganku bersama lirikan matanya yg makin manja. Ah, boleh pun tuh cewek pikirku, bodinya pass montok, hitam manis dgn buah dada yg tampak menonjol akbar ke luar dari blousenya. Namun tiap-tiap saya pengen iseng-iseng menggoda Reni bayangan wajah Ningsih senantiasa berkelebat di depan mataku, seakan mengingatkan janji & kesetiaanku. Ah, anda ingin menang sendiri Ning! gumamku dalam hati, sedangkan anda nikmat-enakan dgn suamimu. Saya senantiasa membayangkan Ningsih telanjang bulat tiap-tiap tengah malam dgn suaminya & main-main cinta di ranjang berdua, tidak dengan takut didapati orang, tidak dengan takut diganggu orang sebab memang lah suami-isteri sah & lupa kepada diriku. Seterusnya terhadap akhir klimaks-nya Ningsih melenguh & meregang sambil memuji sayang suaminya, sama seperti dilakukannya padaku. "Uuh! anda benar-benar nggak setia Ningsih! anda tega meninggalkan saya sendirian di Jakarta , sedangkan anda nikmat-enakan tiap tengah malam ngentot bersama suamimu. Anda bilang nggak cinta, tetapi lama lama anda menyukai serta dimasukin penisnya! Brengsek anda Ningsih!!! & bodohnya saya konsisten saja setia menunggu barang bekasan lelaki lain." 

Sekretarisku masuk lagi ke tempat kerjaku, ada apa pikirku, belum dipanggil kok masuk lagi. Jangan-jangan dirinya memang lah telah kegatelan ingin kucumbu. Saya telah memiliki pikiran tidak baik utk menggodanya buat mengobati kekesalanku kepada Ningsih & saya nyaris percaya bahwa ia juga tentu mengharapkan saya berbuat sesuatu yg mengasyikan padanya. 

"Ada apa lagi?" kataku pura-pura masihlah berwibawa seperti rata rata. 
"Anu, Pak.. ada telpon dari Ibu Ningsih, Bandung!" menurutnya mengandung curiga. "Hah, Ningsih! Ada apa lagi dirinya, ingin CeNingsih asyik-masyuk pengantin barunya dgn si Yudi itu?" pikirku dalam hati. "Cepat, sambungin ke sini!" jawabku segera & spontan. Heran, tiap-tiap kudengar nama beliau, terlebih dapat mendengar suaranya sesudah nyaris sebulan tak ketemu, kebencian & cemburuku terhadap suaminya seperti mendadak hilang tidak berbekas. Sekretarisku bergegas ke luar kembali buat menyambungkan saluran telephone dari Ningsih, kelihatan raut mukanya agak ditekuk. Saya percaya ia nggak demikian gemar apabila Ningsih telpon, barangkali pula cemburu, dikarenakan dirinya tahu saya punyai interaksi husus dgn seken sekretarisku itu. 

"Hallo, Papah, ini Mamah, apa khabar sayang?" nada Ningsih di seberang sana terdengan merdu di kupingku. 
"Baik saja kok, anda dengan cara apa?" kataku datar. 
"Pah, Mamah amat rindu deh, kapan Papah ingin ke Bandung?" jawabnya lagi. 
Tiba-tiba timbul pikiranku buat menggodanya, sekaligus menumpahkan kekesalan & kecemburuanku. 
"Ah, periode sih anda kangen aku, kan tiap tengah malam ada sohib sekasur, nikmat lagi, nggak takut didapati orang, tiap jam, tiap diwaktu ingin mainkan tinggal buka celananya, penisnya akbar lagi, tentu anda melenguh keenakan!" jawabku nyerocos seenaknya & rasanya plong hatiku sesudah mengatakannya. 
"Papah, kok gitu sih? Papah jahat deh, Mamah nggak nyangka Papah berkata demikian, padahal tiap-tiap detik, tiap-tiap hri Mamah rindu padamu!" ungkapnya dgn suara agak tinggi. Saya terdiam, nggak tahu ingin ngomong apa lagi. 
"Pah, anda tetap ingin denger Mamah nggak?" Ningsih bicara lagi. 
"Pah, Mamah interlokal nih, menjadi harus menghemat, Mamah kan isteri Petugas mungil, harus NgiNing, masihlah ingin dengar nggak?" 
"Iya, iya, saya masihlah dengar kok, konsisten saja ngomong, saya dengerin", kataku sekenanya. 
"Papah kok gitu sih, Papah nampaknya nggak rindu sama Mamah? ya telah, Mamah tutup teleponnya ya!" serunya mulai sejak emosi. Saya tetap saja ingin menggodanya, rasanya kesal & cemburuku belum hilang betul. 
"silakan, memangnya siapa yg telpon duluan?" lanjutku lagi. 
"Oh, gitu ya, anda memang lah egois, anda nggak ingin ngerti, ingin menang sendiri, anda senantiasa mengungkit perkawinanku, padahal semuanya berlangsung bukan sebab mauku. Mengapa dahulu Papah nggak BeReni mengawini Mamah? Jawabnya sebab Papah telah punyai anak, isteri & kedudukan tinggi. Apakah itu bukan egois namanya? Namun Mamah masih menyintaimu bersama sepenuh hati, apa Papah pikir Mamah pula nggak cemburu, bertahun-tahun mencintai pria yg telah menjadi suami orang? Apa Mamah mesti menjadi perawan lanjut usia & cuma selingan anda?" 
Terdengar suaranya mulai sejak keras & terbata-bata, bisa jadi menahan tangis. 
"Ya telah, Mamah nggak bakalan telpon Papah lagi, biarlah Mamah menanggung rindu & mencintai Papah hingga mati, Mamah nggak bakal ganggu Papah lagi apabila benar-benar telah tak dibutuhkan! Namun anda harus ingat Pah, bahwa bayi di kandungan Mamah merupakan anakmu, bayi ini yaitu darah dagingmu, kamulah yg menempa & menjadikan janin anakmu ini, si Yudi bukan bapaknya yg sesungguhnya, dirinya nggak tahu bahwa saya telah mengandung benih anakmu waktu kawin."

Ningsih terdengar menutupi kesedihannya dgn omelan panjang yg memerahkan kupingku. Ah, basic wanita, seandainya telah merajuk & mengamuk, hatiku senantiasa luluh dgn perasaan cintaku kepadanya, cintaku yg benar-benar teramat mendalam & tak dapat terlupakan, apapun yg berjalan & bagaimanapun status Ningsih kini yg telah jadi Nyonya Yudi Prayogo. Saya takut Ningsih serentak menutup teleponnya, oleh sebab itu langsung kularang beliau. 

"Mah, tunggu! jangan sampai tutup dahulu teleponnya, oke...oke... , maafkan Papah, Papah pun rindu, Papah sayang, Papah senantiasa mencintaimu, anda dengar itu sayang?" saya menyerocos tidak terkendali, menumpahkan perasaanku yg sesungguhnya. 
"Ya telah, tidak apa, Mamah senantiasa memaafkan anda, waktu ini tulis nomer telpon Mamah & Mamah tunggu anda di Bandung cepat jika Papah masihlah sayang Mamah, mumpung si Yudi lagi pekerjaan seminggu ke Malang!" perintah Ningsih. Kucatat nomer teleponnya & saya berjanji utk serta-merta datang ke Bandung menemuinya, kasihan Ningsihku kesepian & amat merindukanku. Saya janji utk datang hri Jumat sore bersama kereta Parahyangan & menginap di Hotel Kumala Panghegar. Saya sengaja tak bawa mobil & sopirku karena dapat berabe kelak jika sopirku tahu saya tetap berhubungan bersama Ningsih. 

Terhadap Jum'at sore saya telah tiba di stasiun kereta api Bandung & temanku kepala cabang di Bandung sudah siap menjemputku di stasiun. "Gila lu Zen, kau rupanya tetap serta berhubungan sama Ningsihmu itu!" menurutnya sambil menepuk bahuku, sesudah kami berjumpa di stasiun. Saya cuma tersenyum saja. Togar Sihombing temanku itu memang lah satu-satunya sejawatku yg mengetahui pertalian intimku bersama Ningsih, sejak Ningsih masihlah jadi sekretarisku. "Hati-hati anda Zen, di sini anda lagi bertamu, kelak ditangkep satpam suaminya tau rasa kau!" jelasnya meledek. Sebab rahasiaku & Ningsih memang lah telah di tangannya, saya tidak sungkan-sungkan meminta agar Togar dapat jemput Ningsihku dari rumahnya di daerah Pasir Kaliki & diboyong ke kamar hotelku. Saya suruh ia mengatur segalanya, termasuk juga keamanan hotel Kumala Penghegar, biar saya mampu slow & slow dgn Ningsihku semalam suntuk, bahkan seandainya sanggup hingga pekan pagi. 

Kira-kira satu setengah jam saya menunggu di kamar hotel, pintu diketuk dari luar & diwaktu kubuka pintu kamarku, nyatanya Ningsihku telah berdiri sendirian. Ia tersenyum manis bersama lipstik merah lanjut usia tidak tebal, kontras bersama mukanya yg putih mulus. Badannya makin bersih & montok, mungkin saja pengaruh kandungannya yg jalan dua bln, maka buah dadanya nampak makin membesar & pinggulnya makin bulat berisi. Tampak perutnya sedikit membesar & itu makin membangkitkan gairahku. Kata orang, perempuan yg sedang hamil dua atau tiga bln itu sedang cantik-cantiknya & dapat amat menggemaskan laki laki yg melihatnya, terlebih dalam kondisi polos. Kuraih tangannya & kutarik ia ke kamarku. Sesudah mengunci kamar bersama double-locked, kupeluk & kucium beliau dgn penuh kerinduan, Ningsih membalas hangat. Kuminta air liurnya seperti biasa disaat kami berciuman & kutelan dalam-dalam ludahnya yg masihlah wangi itu. Baru saya sadar buat menanyakan kawanku Togar, sesudah Ningsih melepaskan ciumanku yg menggebu-gebu maka terengah-engah kehabisan napas. 

"Kemana si batak itu?" tanyaku. 
"Dia pulang lalu jelasnya, sesudah mengantar Mamah hingga ke pintu kamarmu", jawab Ningsih. Tahu betul tuh batak satu. 

"Kok, Papah nampak kurusan? tuturnya lagi sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung rambut. 
"Masa? bisa saja kurus mikirin anda. Apa khabar sayang? gemar ya hidup di Bandung?" dirinya merebahkan badannya di pelukanku, maka saya terdorong rebah ke ranjang lantaran Ningsih makin berat badannya. 
"Apa kabarnya suamimu? Kok punyai isteri jelita ditinggal-tinggal terus", godaku muncul lagi. 
"Ah, sudahlah, nggak usah nanya ia, namanya pun Petugas rendahan, mesti ingin ditugaskan ke mana saja." Jawab Ningsih. 
"Pah, Mamah kangen & rindu banget deh", jelasnya lagi sambil berbalik menindih tubuhku. Oh, Ningsihku makin bahenol saja badannya, & buah dadanya yg makin montok menekan dadaku. 
"Hati-hati dgn perutmu sayang, kelak anak kita kejepit." Ningsih tidak peduli, ia tetap merangsek & menciumi seluruhnya mukaku & kupingku maka seluruhnya tubuhku merinding dibuatnya. 
"Oooohh... Papah, Mamah gemes & rindu deh!" ujarnya sambil menjulurkan lidahnya yg harum ke bibirku, pasti saja kusambut hangat & cepat menghisap lidahnya dalam-dalam sambil kugigit sayang. Ningsih melotot manja, "aachh... sakiiitt dong Paahh!" Kukulum lagi lidahnya & kusedot sambil memejamkan mataku, Ningsih mulai sejak melenguh bahagia sambil sekali lagi menumpahkan liurnya buat kuhisap & kutelan dalam. Kubalikkan badannya pelan-pelan lantaran Ningsih sedang berisi, & serta-merta saja kubuka pakaiannya. Ningsih diam saja dgn mata terpejam. Kulempar satu persatu roknya, blousnya, blazernya, & terakhir celana dalamnya. Oh, Ningsihku makin montok & menggairahkan. Pahanya, betisnya yg putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus, pinggulnya makin montok berisi & vaginanya bersama bulu-bulu hitam slim kemerahan makin menggairahkan. Kujilati badannya sejak mulai dari ujung kaki, naik ke betis, paha & bermuara di selangkangan & vaginanya. Ningsih mulai sejak menggeliat-geliat kegelian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...